Menyikapi hal ini, Kemenperin sudah menyiapkan skema pemulihan. Rencananya akan dilakukan bertahap, tidak sekaligus. Di tahun 2025 ini, fokusnya lebih pada koordinasi dan pendataan mendalam. Mereka ingin memetakan kebutuhan riil di lapangan agar bantuan nantinya tepat sasaran. Progres tahap awal ini ditargetkan sekitar 20 persen.
Baru di tahun 2026, program pemulihan akan benar-benar dijalankan. Mulai dari penetapan penerima bantuan, pemberian mesin dan peralatan pengganti, hingga upaya menghidupkan kembali proses produksi. Bantuan teknis juga akan digelar, salah satunya dengan mengoptimalkan semangat kewirausahaan di daerah bencana.
Bentuk intervensinya sendiri cukup beragam. Mulai dari bantuan mesin sederhana, penyediaan starter kit usaha yang mencakup bahan baku, sampai pendampingan teknis untuk pengembangan produk. Fasilitasi kemitraan juga digalakkan agar akses pasar para pelaku usaha bisa lebih luas.
Agus berharap besar pada program ini. Bukan cuma sekadar memulihkan, tapi juga membangun ketahanan yang lebih baik.
"Melalui program restarting ini, kami berharap pemulihan industri kecil tidak hanya mengembalikan kapasitas produksi seperti sebelum bencana, tetapi juga memperkuat ketahanan dan keberlanjutan usaha agar lebih siap menghadapi risiko di masa mendatang," kata Agus menutup penjelasannya.
Pekerjaan rumahnya masih panjang. Tapi setidaknya, sudah ada peta jalan yang mulai digariskan untuk membangkitkan kembali denyut perekonomian di wilayah yang terdampak.
Artikel Terkait
Percikan di Botol Sampanye Picu Malapetaka di Bar Swiss, 40 Tewas
Jay Idzes: Tulang Punggung yang Mengerek Harga Pasar Sassuolo
Pabrik Eropa Lesu, Asia Bangkit Diterjang Gelombang AI
BSU Rp600 Ribu untuk 2026: Kapan Jadwalnya Diumumkan?