Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di pembukaan perdagangan BEI untuk tahun 2026 ternyata tak kunjung muncul. Ini sudah kedua kalinya beliau absen dari seremoni awal tahun di lantai bursa. Pastinya, situasi ini langsung menarik perhatian banyak pihak.
Namun begitu, respons pemerintah justru terlihat tenang. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tampil memberikan penjelasan. Ia mengajak semua orang untuk melihat agenda presiden dari sisi yang berbeda. Menurut Purbaya, justru kehadiran Prabowo di lapangan menunjukkan prioritas utama pemerintah: langsung turun melayani masyarakat.
"Presiden lagi di Aceh. Itu juga menunjukkan bahwa Presiden amat peduli dengan masyarakat. Artinya apa? Yang lain pun nanti diperhatiin termasuk ekonominya,"
ujar Purbaya usai acara di Gedung BEI, Jakarta, Jumat lalu.
Purbaya meyakinkan bahwa sentimen pasar takkan terganggu. Komitmen presiden terhadap perekonomian, katanya, tetap kuat dan sudah diwakili oleh para menteri serta kebijakan-kebijakan yang ada. "Komitmen Presiden terhadap masyarakat, terhadap ekonomi amat kuat sejalan dengan kunjungannya ke Aceh. Jadi enggak apa-apa, kan alat-alatnya Presiden di sini semua," tambahnya.
Jadi, di mana presiden saat bel bursa dibunyikan? Ternyata, Prabowo sedang berada jauh di Provinsi Aceh. Agenda kerjanya padat: meninjau langsung progres pemulihan daerah pasca-bencana dan memastikan pembangunan infrastruktur berjalan sesuai target. Fokusnya jelas: mengecek pembangunan hunian tetap dan penyaluran dana bantuan agar tepat sasaran. Ini adalah kerja nyata, dan bagi pemerintah, ini justru bentuk penguatan ekonomi yang dimulai dari akar rumput.
Di sisi lain, seremoni di BEI tetap berlangsung khidmat. Kehadiran Presiden diwakili oleh sederet nama penting: mulai dari Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, hingga jajaran petinggi sektor keuangan lainnya. Pesannya satu: roda kebijakan pasar modal tetap berjalan maksimal. Pemerintah, meski dengan presiden yang berada di lokasi lain, tetap memegang kendali.
Jadi, ketidakhadiran fisik di satu tempat, bagi mereka, bukanlah sebuah kelalaian. Melainkan sebuah pilihan tentang di mana keberadaan lebih dibutuhkan.
Artikel Terkait
Kemenag Siapkan Relokasi Pesantren Terdampak Bencana di Tegal
Pemangku Zakat dan Wakaf Sepakati 17 Komitmen Perkuat Tata Kelola Nasional
Bapanas Siap Salurkan Bantuan Pangan ke 33,2 Juta Keluarga pada Februari-Maret 2026
TMII Ramai Pengunjung di Libur Imlek, Tawarkan Festival Pecinan dan Pertunjukan Air Mancur