JAKARTA – Soal penyebaran influenza A (H3N2) atau yang belakangan disebut 'Super Flu Subclade K', Kementerian Kesehatan memastikan situasi masih terkendali. Tidak ada lonjakan kasus yang mengkhawatirkan, dan tingkat keparahannya pun dinilai tak lebih berbahaya dibandingkan varian flu musiman lainnya. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus dijaga.
Lantas, di mana saja kasus ini sudah muncul? Pertanyaan itu akhirnya terjawab dengan rilis data terbaru dari Kemenkes.
Menurut dr Prima Yosephine, Direktur Penyakit Menular Kemenkes, subclade K ini sebenarnya sudah terendus di Indonesia sejak Agustus 2025 lalu. Penemuan itu didapat melalui sistem surveilans rutin di sejumlah fasilitas kesehatan.
"Hingga akhir Desember 2025, tercatat ada 62 kasus influenza A (H3N2) Subclade K yang tersebar di 8 provinsi, dengan jumlah terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat. Mayoritas kasusnya terjadi pada perempuan dan kelompok usia anak," jelas dr Prima, Jumat (2/1/2026).
Kalau dirinci, persebarannya cukup menarik. Jawa Timur memimpin dengan 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan (18 kasus), dan Jawa Barat (10 kasus). Beberapa provinsi lain seperti Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DIY juga melaporkan, meski jumlahnya lebih sedikit, hanya berkisar 1 hingga 5 kasus.
Dari sisi demografi, data menunjukkan sekitar 64,5% penderitanya adalah perempuan. Sementara itu, anak-anak dan remaja justru paling banyak terdampak. Kelompok usia 1-10 tahun menyumbang 35,5% kasus, diikuti usia 11-20 tahun (19,4%) dan 21-30 tahun (21%). Lansia di atas 60 tahun justru terpapar lebih sedikit, hanya sekitar 8,1%.
Nah, di tengah temuan ini, apa yang harus dilakukan masyarakat? Imbauannya sebenarnya klasik, tapi selalu relevan: terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jaga daya tahan tubuh, dan yang tak kalah penting, vaksinasi influenza tahunan terutama buat kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, atau mereka yang punya penyakit bawaan.
"Vaksin influenza tetap efektif dalam mencegah sakit berat, rawat inap, dan kematian," tegas dr Prima.
Intinya, jangan panik. Tapi jika gejala seperti demam, batuk, pilek, atau sakit tenggorokan muncul, sebaiknya segera periksa ke dokter. Istirahat di rumah, pakai masker, dan terapkan etika batuk yang benar. Jika dalam tiga hari kondisi tak kunjung membaik atau malah memburuk, jangan tunda lagi untuk mencari pertolongan medis. Situasi memang terkendali, namun kewaspadaan individu tetap menjadi kunci.
Artikel Terkait
Saint Kitts dan Nevis Datangkan Pelatih Baru, Tantangan Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Pesawat Hibah Garuda Diresmikan di Aceh untuk Simulasi Manasik Haji
Pendapatan Anthropic di India Melonjak Dua Kali Lipat dalam Empat Bulan
Ekspor Kopi Indonesia Tembus USD 1,63 Miliar, Pemerintah Fokuskan Hilirisasi