“Di Serie A saya hanya bermain beberapa pertandingan… siapa tahu itu bisa berubah,” ujar Diks.
“Saya menyukai kedua liga tersebut, tetapi jika harus memilih, saya akan memilih Bundesliga,” imbuhnya.
Pilihannya itu bukan karena Serie A buruk atau tidak kompetitif. Sama sekali bukan. Menurut Diks, itu lebih soal memori personal. Perjuangannya menembus skuad utama Fiorentina terasa sangat berat, hingga akhirnya ia harus mencari peluang di tempat lain. Di sisi lain, Bundesliga memberinya nuansa dan kesempatan yang berbeda. Ia tampak lebih ‘sreg’, untuk meminjam istilah yang pas.
Kini, di Jerman, lembaran baru telah terbuka. Setelah melalui perjalanan berliku, Kevin Diks akhirnya menemukan rumah yang tepat untuk melanjutkan kariernya. Dan untuk saat ini, Bundesliga adalah jawabannya.
Artikel Terkait
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke USD100 Tak Perlebar Defisit APBN
Gapensi Desak Penyesuaian Harga Proyek Imbas Kenaikan Biaya Konstruksi
Menteri ESDM: Kenaikan Harga Minyak ke US$100 Tak Perlebar Defisit APBN
Seratus Personel Gabungan Basmi Ikan Sapu-sapu di Kali Cideng