“Di Serie A saya hanya bermain beberapa pertandingan… siapa tahu itu bisa berubah,” ujar Diks.
“Saya menyukai kedua liga tersebut, tetapi jika harus memilih, saya akan memilih Bundesliga,” imbuhnya.
Pilihannya itu bukan karena Serie A buruk atau tidak kompetitif. Sama sekali bukan. Menurut Diks, itu lebih soal memori personal. Perjuangannya menembus skuad utama Fiorentina terasa sangat berat, hingga akhirnya ia harus mencari peluang di tempat lain. Di sisi lain, Bundesliga memberinya nuansa dan kesempatan yang berbeda. Ia tampak lebih ‘sreg’, untuk meminjam istilah yang pas.
Kini, di Jerman, lembaran baru telah terbuka. Setelah melalui perjalanan berliku, Kevin Diks akhirnya menemukan rumah yang tepat untuk melanjutkan kariernya. Dan untuk saat ini, Bundesliga adalah jawabannya.
Artikel Terkait
Prancis Siap Cabut Akses Medsos untuk Remaja di Bawah 15 Tahun pada 2026
Nyaris Tertinggal Kereta, Sebuah Drama Pagi di Solo yang Berakhir Damai di Bandung
Lebih dari 311 Ribu Kendaraan Serbu Tol Jabotabek Menyambut Libur Tahun Baru
China Pasang Tarif 55% untuk Impor Daging Sapi, Lindungi Peternak Lokal