Malam itu, di bawah kubah Masjid Istiqlal yang megah, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan yang tegas namun menghibur. Bencana alam yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, menurutnya, harus dilihat sebagai momentum untuk bangsa ini melakukan introspeksi. Bukan sebagai hukuman.
Acara 'Doa Bangsa untuk Sumatra' yang digelar iNews Media Group itu menjadi ruang renung yang tepat. Nasaruddin dengan jelas membedakan tiga konsep penderitaan dalam ajaran Islam.
“Jadi, musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan di tempat-tempat yang lain, jangan dihubungkan dengan azab. Karena azab itu hanya untuk orang-orang kafir,” ujarnya.
Menurut penjelasannya, azab adalah bentuk kemurkaan Allah yang khusus untuk kaum kafir. Sementara musibah atau bala sifatnya berbeda. Ini adalah ujian yang bisa menimpa siapa saja, orang beriman maupun tidak, sebagai bagian dari ketentuan-Nya.
“Kalau azab itu untuk orang-orang kafir, musibah itu bisa mengenai semua orang. Fungsinya adalah ujian, bukan untuk menyiksa,” tutur Nasaruddin.
Di balik kesedihan itu, ia meyakini selalu ada janji kenaikan derajat bagi mereka yang bersabar. Karena itulah, ia mengajak masyarakat untuk menjauhi sikap menghakimi. Yang diperlukan sekarang, kata dia, adalah empati dan solidaritas yang nyata.
Nasaruddin juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk tak henti mendoakan para korban. Ia menegaskan bahwa doa bukanlah tindakan yang sepele.
“Bagi Anda yang tidak sempat mungkin memberikan bantuan material, jangan dikira doa itu kecil artinya. Doa itu adalah ibadah, doa adalah silaturahmi, doa itu adalah intinya seluruh ibadah, dan doa itu adalah senjatanya yang paling ampuh buat orang-orang beriman,” katanya dengan penuh keyakinan.
Di sisi lain, ia turut menyoroti upaya pemerintah. Nasaruddin menyinggung langkah Presiden Prabowo Subianto yang berusaha mempercepat penanganan dampak bencana.
“Makanya itu Bapak Presiden kita juga membantu untuk resolusi secara cepat terhadap bala bencana yang menimpa, terutama untuk betul-betul memberikan sesegera mungkin jalan keluar agar jalan yang terputus, agar jembatan yang terputus di Sumatra bisa diperbaiki segera,” jelasnya.
Namun begitu, ada pesan yang lebih mendasar yang ingin ia sampaikan. Bencana ini, baginya, adalah peringatan keras. Peringatan agar manusia tidak lagi bersikap serakah dan eksploitatif terhadap alam.
“Mari kita jadikan musibah yang terjadi di Aceh, di Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dan di tempat-tempat yang lain adalah sebagai sebuah pelajaran. Mari kita mengerem pikiran-pikiran yang eksploitatif, seolah-olah manusia adalah panglima alam semesta yang berhak mengeksploitasi alam semesta ini sesuai dengan keinginannya, tanpa memperhatikan hak-hak alam semesta,” tegasnya di akhir penyampaian.
Suasana hening sejenak menyelimuti ruangan. Pesannya jelas: selain bantuan dan doa, yang juga penting adalah perubahan cara kita memandang dan memperlakukan bumi tempat kita berpijak.
Artikel Terkait
Mensos: 2.000 Peserta BPJS PBI Beralih ke Skema Mandiri Usai Reaktivasi
Menteri Bahlil Buka 110 Blok Migas Baru dan Prioritaskan Pengusaha Daerah untuk Proyek Kecil
Pengamat: Skeptisisme dalam Negeri Bisa Jadi Hadiah untuk Sayap Kanan Israel
Dokter Tifa Tuding Beredarnya Enam Versi Ijazah Jokowi Sebagai Ilusi Transparansi