Bulan Jadi Medan Perang Dingin Baru, Rusia dan AS Siapkan Reaktor Nuklir

- Jumat, 26 Desember 2025 | 03:25 WIB
Bulan Jadi Medan Perang Dingin Baru, Rusia dan AS Siapkan Reaktor Nuklir

MOSKOW Bulan lagi-lagi jadi rebutan. Kali ini, bukan cuma soal misi penelitian singkat, tapi ambisi jangka panjang. Rusia, China, dan Amerika Serikat seperti terlibat dalam sebuah perlombaan besar yang sunyi. Apa sih yang sebenarnya mereka cari di sana?

Ambisi Rusia terlihat makin konkret. Mereka berencana membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Bulan dalam kurun satu dekade ke depan. Targetnya, fasilitas itu bakal berdiri pada 2036. Tujuannya jelas: untuk mendukung Stasiun Penelitian Bulan Internasional yang mereka kerjakan bareng China. Bayangkan, energi dari reaktor nuklir itu nantinya akan menghidupi segala macam peralatan, mulai dari kendaraan penjelajah, observatorium, sampai infrastruktur penelitian lainnya agar bisa beroperasi terus-menerus.

Roscosmos, badan antariksa Rusia, memang tak secara gamblang menyebut jenis pembangkitnya. Tapi, keterlibatan raksasa nuklir Rosatom dan Institut Kurchatov bikin banyak orang yakin: sumber energinya pasti nuklir. Langkah ini menunjukkan satu hal: Rusia dan China sudah memandang Bulan sebagai rumah kedua, bukan sekadar tempat singgah.

Di sisi lain, Amerika Serikat tentu saja tidak mau ketinggalan. NASA sudah mengumumkan rencananya sendiri untuk menempatkan reaktor nuklir di Bulan di awal tahun 2030-an. Bahkan, Menteri Perhubungan AS Sean Duffy dengan blak-blakan menyebut negaranya sedang "berlomba" dengan China untuk membangun pangkalan di sana.

"Kami mengakui, saat ini kami sedikit tertinggal," ujarnya.

Lalu, apa yang membuat Bulan begitu menarik? Menurut sejumlah pengamat, jawabannya sederhana: sumber daya. Bulan disebut-sebut sebagai "ladang emas" masa depan. NASA sendiri memperkirakan ada sekitar satu juta ton Helium-3 terpendam di permukaannya. Isotop langka ini hampir tak ada di Bumi dan diyakini bisa jadi bahan bakar revolusioner untuk reaktor fusi nuklir.

Belum lagi soal logam tanah jarang. Skandium, ittrium, dan lantanida material krusial untuk industri teknologi tinggi juga ada di sana. Penguasaan atas semua harta karun ini jelas akan memberi keunggulan ekonomi dan geopolitik yang luar biasa di masa depan.

Aspek prestise juga tak kalah penting. Rusia, yang dulu berjaya dengan Yuri Gagarin, kini merasa perlu mengejar ketertinggalan. Kegagalan misi Luna-25 tahun lalu memang pukulan, tapi proyek ambisius seperti PLTN Bulan ini bisa jadi momentum untuk bangkit lagi.

Memang, aturan internasional melarang penempatan senjata nuklir di luar angkasa. Tapi, untuk pembangkit listrik? Itu masih diperbolehkan dengan syarat tertentu. Celah hukum inilah yang kini dimanfaatkan negara-negara besar itu.

Jadi, dengan energi, sumber daya, dan gengsi global dipertaruhkan, Bulan sudah berubah wajah. Ia bukan lagi objek penelitian murni, melainkan medan persaingan baru bagi kekuatan dunia. Dan perlombaan ini, percayalah, baru saja dimulai.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar