Obrolan santai kadang bisa menghantam kepala layaknya bola kasti yang datang tiba-tiba. Siang itu, sambil menunggu istri yang sedang berkunjung ke rumah orang tuanya, seorang kerabat melontarkan pertanyaan. Matanya menatap tajam, meski nada suaranya berusaha ringan. "Masihkah kau mencintai istrimu seperti dulu, saat pertama kali bertemu?"
Pertanyaannya sederhana, tapi dampaknya dalam. Aku terdiam sejenak. Bukan karena ragu, tapi lebih karena ingin mencari kata-kata yang tepat. Aku tak mau jawabanku terdengar klise, seperti kutipan dari buku panduan pernikahan.
"Masih," jawabku akhirnya, pelan. "Bahkan lebih dalam."
Dia mengangkat alis, penasaran. Maka kulanjutkan.
"Cintaku padanya... itu seperti pohon beringin."
Wajahnya langsung tampak bingung. Memang, siapa sih yang membandingkan cinta dengan beringin? Bukan mawar atau melati yang biasa dipakai sebagai simbol kasih sayang. Beringin itu besar, kokoh, dan bagi sebagian orang malah terkesan angker. Tapi justru di situlah letak maknanya.
"Beringin itu tumbuh dalam diam," jelasku. "Akar-akarnya menghunjam kuat ke dalam tanah. Ia tidak sibuk memamerkan bunga, tapi hampir mustahil untuk ditumbangkan badai. Kalau pun suatu saat ia roboh, itu bukan karena goyah. Tapi karena seluruh akarnya tercabut sampai ke pangkal. Tidak ada yang setengah-setengah."
Aku tak yakin dia paham. Jadi kuberi penjelasan yang lebih konkret, sesuatu yang langsung menyentuh naluri manusiawi.
Istriku telah mempertaruhkan nyawanya lima kali. Lima kali itu ia berhadapan dengan maut, hanya untuk melahirkan anak-anak kami. Ia rela mengorbankan masa mudanya, mengubah tubuhnya, menunda mimpinya, demi merawat keluarga yang kami bangun. Dialah rumah yang selalu terbuka, tempat aku bisa pulang bahkan saat aku bukan versi terbaik diriku sendiri.
Bagaimana mungkin perasaan untuk seseorang seperti itu hanya diukur sampai hitungan tahun? Sungguh tidak masuk akal.
Namun begitu, kerabatku itu malah tertawa kecil. Ekspresinya seperti mendengar cerita dongeng. Rupanya, bagi dia, lelaki sejati tidak bicara seperti itu. Cinta, dalam pandangannya, adalah transaksi. Harus ada untungnya, harus realistis. Ukurannya adalah materi, kemewahan, dan kepuasan fisik yang selalu siap diberikan. Kapan pun, di mana pun.
Aneh, bukan? Katanya lelaki harus dewasa, tapi cara memandang cinta justru dangkal sekali. Kalau hanya soal itu, apa bedanya dengan binatang ternak yang hidupnya cuma untuk makan dan kawin?
Mungkin aku ini naif. Mungkin aku memang gagal menjadi "lelaki" versi dunia yang seperti itu. Tapi aku tak merasa malu.
Kalau mencintai istri dengan sepenuh jiwa, menghormati tubuh yang telah mengandung anak-anakku, menjaga seseorang yang pernah mempertaruhkan segalanya kalau itu dianggap kekanak-kanakan, maka biarlah.
Aku lebih memilih menjadi anak kecil yang tulus, daripada lelaki dewasa yang bangga dengan jiwa yang kosong. Cinta yang seperti beringin tak butuh pengakuan orang, tak ikut-ikutan tren, dan tak punya tanggal kadaluarsa. Ia hanya memerlukan satu hal: kesetiaan.
Dan kesetiaan itu, ternyata, jauh lebih gagah dibanding semua definisi "kejantanan" duniawi yang penuh dengan pameran.
Artikel Terkait
BRI Salurkan Rp16,16 Triliun KPR Subsidi untuk Lebih dari 118 Ribu Debitur
Imlek Nasional 2026 Usung Tema Harmoni Imlek Nusantara, Fokus pada Gerakan Sosial Berkelanjutan
Pelatih Iran: Gelar Juara Futsal Asia 2026 adalah Kemenangan Tersulit di Tengah Duka Negeri
Menpora Apresiasi Runner-up Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia 2026