Mulai awal 2026 nanti, Indonesia bakal memegang sebuah peran penting di kancah global. Negara kita ditetapkan menjadi Ketua Developing-8 (D-8) Organization for Economic Cooperation, tepatnya periode 2026–2027. Ini bukan sekadar giliran biasa, tapi momentum strategis di tengah peta geopolitik yang terus berubah.
Acara serah terima keketuaan secara resmi rencananya bakal digelar di Jakarta. Kota ini akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-12 D-8 pada April 2026 mendatang. Pastinya, semua mata akan tertuju ke ibu kota.
Lantas, apa artinya semua ini? Bagi pemerintah, ini peluang emas. Tri Tharyat, Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kemlu, menyebut keketuaan ini sebagai sarana untuk menguatkan diplomasi ekonomi Indonesia. Tak hanya itu, solidaritas antar negara Global South juga bisa diperkokoh, sehingga daya tawar kolektif mereka makin kuat.
“D-8 itu forum ekonomi strategis bagi Global South,” ujar Tri dalam keterangannya, Minggu (21/12/2025).
“Di tengah dinamika geopolitik dan tantangan multilateralisme, keketuaan Indonesia di D-8 akan menjadi sarana penting untuk memperkuat kesetaraan, solidaritas, dan kerja sama ekonomi yang konkret,” tegasnya.
Organisasi D-8 sendiri beranggotakan sembilan negara berkembang: Azerbaijan, Bangladesh, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Cakupannya luas banget, dari Asia Tenggara sampai Afrika. Secara kolektif, mereka mewakili pasar yang sangat besar: populasi gabungannya sekitar 1,3 miliar jiwa dengan total PDB mencapai USD5,1 triliun. Angka perdagangan antar sesama anggota D-8 juga tak main-main, berkisar USD157 miliar. Makin jelas, kan, potensinya?
Dengan komposisi geografis yang begitu beragam, D-8 perlahan muncul sebagai blok ekonomi penyeimbang. Organisasi ini dipandang sebagai motor penggerak kerja sama Selatan-Selatan yang kian relevan.
Nah, Indonesia sudah punya tema besar untuk memandu keketuaannya: Navigating Global Shifts: Strengthening Equality, Solidarity and Cooperation for Shared Prosperity. Tema ini tak hanya ambisius, tapi juga punya akar sejarah ia sejalan dengan semangat Dasasila Bandung yang legendaris itu.
Secara konkret, fokusnya akan diarahkan pada beberapa hal. Integrasi ekonomi dan perdagangan tentu jadi prioritas. Selain itu, Indonesia berniat mendorong pengembangan ekonomi halal, mempromosikan ekonomi biru dan transisi hijau, serta meningkatkan konektivitas digital. Tak lupa, tata kelola organisasi D-8 sendiri juga akan diperkuat.
Jadi, dua tahun ke depan akan jadi periode yang cukup sibuk. Tantangannya banyak, tapi peluangnya terbuka lebar. Semuanya bermuara pada satu harapan: agar kepemimpinan ini membawa manfaat nyata, bukan hanya bagi Indonesia, tapi juga bagi solidaritas dan kemakmuran bersama negara-negara berkembang.
Artikel Terkait
Pertamina Lakukan Rotasi Direksi, Mega Satria Jabat Direktur Keuangan
Satgas: 5.039 Huntara Telah Dibangun, Huntap Masih Tahap Awal
Satgas Fokus Perbaikan Masjid dan Huntara Jelang Ramadan di Daerah Bencana
BRIN Desak Pemprov DKI Kaji Ulang Efektivitas Hujan Buatan untuk Tangani Banjir