Di Bandara Rembele, Bener Meriah, suasana pagi itu berbeda dari biasanya. Bukan deru pesawat penumpang biasa yang terdengar, melainkan aktivitas bongkar muat yang sibuk. Sebuah pesawat Hercules TNI AU yang gagah bersiap mengangkut muatan khusus: puluhan karung berisi cabai merah menyala, ditambah tomat dan kol. Totalnya mencapai 14.000 kilogram hasil bumi yang harus segera diselamatkan.
“Melaporkan dukungan pesawat untuk mengangkut logistik dan personel di Bandara Rembele, Kabupaten Bener Meriah,” begitu bunyi keterangan resmi TNI Angkatan Udara, Rabu lalu.
Rupanya, ini bukan sekadar tugas rutin. Pengangkutan lewat udara ini jadi solusi darurat karena jalur darat ke Medan terputus total oleh bencana. Bayangkan saja, hasil panen yang mestinya jadi rezeki para petani, nyaris teronggok tak tersalurkan.
Pesawat Hercules bernomor A-1339 itu, dikemudikan oleh Kapten Pnb. Alwi, punya dua misi sekaligus. Selain mengangkut komoditas pertanian, pesawat juga menyediakan tumpangan bagi warga yang terdampak. Mereka menyiapkan sekitar 20 kursi, dengan prioritas tentu untuk kelompok yang paling rentan: orang tua, ibu-ibu, dan anak-anak.
Rutenya pun bolak-balik antara Bandara Rembele menuju Pangkalan Udara Soewondo di Medan.
Di balik upaya besar ini, ada mandat langsung dari Istana. Presiden Prabowo Subianto ingin memastikan pendapatan para petani tidak ikut terbenam bersama jalan-jalan yang rusak. Saat berkunjung ke pengungsian di Aceh Tengah dan Bener Meriah pada 12 Desember, ia meyakinkan para korban.
“Percayalah pemerintah akan bekerja sangat keras, habis-habisan untuk membantu bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian. Kita akan bersama bapak-ibu semua. Jangan khawatir, Anda tidak sendiri,” tegas Prabowo waktu itu.
Menurut Bupati Bener Meriah, Tagore Abubakar, operasi udara untuk menyelamatkan hasil panen ini sudah berjalan sejak 8 Desember. Mereka memanfaatkan segala armada yang ada, baik Hercules maupun helikopter. Intinya, bagaimana caranya agar sayur-mayur segar itu sampai ke pasar.
Jadi, itu tadi sekelumit cerita dari Bener Meriah. Di tengah duka bencana, ada upaya nyata untuk menjaga agar semangat dan hasil jerih payah petani tidak ikut pupus. Sebuah misi kemanusiaan yang diangkut oleh sayap-sayap besi.
Artikel Terkait
8.000 Jenazah Warga Palestina Masih Tertimbun Reruntuhan Gaza, Pembersihan Puing Diprediksi Capai Tujuh Tahun
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026