Hanya 17 Persen Pelabuhan Indonesia Miliki Fasilitas Penyaring Penumpang

- Rabu, 10 Desember 2025 | 21:25 WIB
Hanya 17 Persen Pelabuhan Indonesia Miliki Fasilitas Penyaring Penumpang

Hanya 17 persen pelabuhan di Indonesia yang punya fasilitas pengamanan untuk menyaring penumpang sebelum mereka naik kapal. Fakta ini diungkapkan Nuraini Dessy, Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT Pelni, dalam sebuah briefing media di Jakarta, Rabu (10/12/2025). Situasinya cukup memprihatinkan.

"Kita itu pelabuhan belum tertutup semuanya," ujar Dessy.

Dia melanjutkan, rata-rata pelabuhan yang dikelola Badan Usaha Pelaksana (BUP) dan bisa dibilang 'steril' baru sekitar 17 persen. "Namun yang lain masih terbuka," tambahnya.

Artinya, sebagian besar sekitar 83 persen pelabuhan bersifat terbuka. Konsekuensinya langsung terasa: banyak calon penumpang tanpa tiket yang leluasa masuk ke kapal. Ini jadi masalah klasik yang selalu muncul, apalagi saat musim ramai seperti Nataru.

Nah, terkait Natal dan Tahun Baru ini, Dessy menjelaskan beberapa upaya antisipasi yang sudah disiapkan. Lonjakan penumpang selama periode liburan memang jauh lebih tinggi dibanding hari biasa. Jadi, pengetatan di pintu masuk pelabuhan mutlak diperlukan.

"Memang apa yang kami lakukan untuk menjaga pengetatan di pintu masuk pelabuhan, baik kerja sama pengamanan dengan yang disediakan oleh BUP, maupun pengamanan dari kami sendiri," jelas Dessy.

Mereka juga menggandeng pihak eksternal seperti TNI AL untuk membantu pengamanan. Langkah-langkah penyaringan akan diperketat, dengan sistem double checking. Pengecekan dilakukan dua kali: saat check-in di pelabuhan, dan lagi setelah penumpang naik ke kapal.

"Ketika melakukan check in dan ke atas kapal juga tetap kita lakukan pengecekan tiket dan identitas. Sehingga lolosnya penumpang tidak bertiket kita minimalisir," lanjut Dessy.

Di sisi lain, proyeksi pergerakan penumpang untuk Nataru tahun ini cukup besar. Pelni memperkirakan totalnya akan mencapai 555.962 orang. Angka itu naik sekitar 0,81 persen dari realisasi tahun sebelumnya.

Direktur Utama PT Pelni, Tri Andayani, memberikan gambaran lebih detail. Puncak arus mudik diprediksi terjadi pada 25 Desember 2025. Sementara untuk arus balik, puncaknya diperkirakan jatuh pada 5 Januari 2026.

"Estimasi pergerakan harian bisa menembus 26.000 lebih penumpang," kata Andayani.

Dia juga menyoroti sejumlah pelabuhan yang bakal jadi titik tersibuk. Peringkat teratas diduduki Makassar, dengan pergerakan penumpang diperkirakan lebih dari 41.000 orang. Menyusul kemudian Ambon, Batam, Sorong, dan Jayapura.

Soal ketersediaan, Andayani menyebut ada 55 kapal yang beroperasi selama Nataru dengan total seat sekitar 56 ribu. Namun, jumlah tiket yang disiapkan jauh lebih banyak: 639 ribu tiket.

"Jumlah ini 16 persen lebih besar dari realisasi Nataru tahun lalu," pungkasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar