ADB Kucurkan Rp8 Triliun untuk Genjot Kualitas SDM Indonesia

- Rabu, 10 Desember 2025 | 13:40 WIB
ADB Kucurkan Rp8 Triliun untuk Genjot Kualitas SDM Indonesia

Bank Pembangunan Asia (ADB) resmi menggelontorkan pinjaman baru untuk Indonesia. Nilainya tak main-main: setengah miliar dolar AS, atau kalau dirupiahkan sekitar Rp8 triliun. Dana segar ini ditujukan untuk mendorong reformasi pembangunan modal manusia di tanah air.

Ini bukan program pertama. Sebenarnya, ini adalah subprogram ketiga dari sebuah program besar bertajuk "Boosting Productivity through Human Capital Development". Dua tahap sebelumnya sudah lebih dulu disetujui, masing-masing di tahun 2021 dan 2023 lalu.

Menurut sejumlah pihak di ADB, langkah ini penting bagi masa depan Indonesia.

"Jalan Indonesia menuju pertumbuhan berkelanjutan bergantung atas investasi pada penduduknya," ucap Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, Rabu lalu.

"Dengan melembagakan reformasi yang meningkatkan kualitas pendidikan, memperluas akses perawatan kesehatan, dan memperkuat perlindungan sosial, kami membantu Indonesia membangun perekonomian yang lebih produktif dan inklusif tanpa ada rakyat yang tertinggal," jelasnya lebih lanjut.

Lalu, untuk apa saja dana triliunan itu nantinya digunakan? Fokusnya menyentuh sektor vital. Di bidang kesehatan, misalnya, program ini akan mengembangkan jaminan kesehatan dengan memperluas cakupan perawatan preventif. Ada juga upaya pemberdayaan perempuan, dengan memberi mereka kebebasan memilih fasilitas kesehatan tingkat pertama dan mencari lokasi perawatan yang mereka rasa aman.

Di sisi lain, di bidang pendidikan, upayanya lebih diarahkan pada penyerapan tenaga kerja. Akan dikembangkan platform yang membantu para pengguna kartu prakerja menemukan peluang kerja yang sesuai. Selain itu, program ini juga mendukung pendirian 15 pusat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) baru yang bakal berkolaborasi dengan berbagai universitas.

Kemajuan lain yang sudah berjalan adalah pembentukan tim koordinasi untuk pendidikan dan pelatihan teknis kejuruan. Saat ini, tim semacam itu sudah terbentuk di 63 persen provinsi di Indonesia. Tujuannya jelas: menyelaraskan pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja yang nyata, bukan sekadar teori.

Pada akhirnya, suntikan dana ini diharapkan bisa jadi katalis. Bukan cuma angka di atas kertas, tapi benar-benar terasa dampaknya bagi peningkatan kualitas hidup dan daya saing sumber daya manusia Indonesia ke depannya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar