Kereta Petani dan Pedagang Resmi Beroperasi, Tarifnya Cuma Rp3.000

- Selasa, 09 Desember 2025 | 18:50 WIB
Kereta Petani dan Pedagang Resmi Beroperasi, Tarifnya Cuma Rp3.000

Mulai Senin lalu, suasana di sejumlah stasiun Commuter Line Merak tampak sedikit berbeda. Ada kereta khusus yang kini melintas, membawa bukan hanya penumpang biasa, tetapi juga sayuran, buah-buahan, dan berbagai barang dagangan. Ya, PT KAI resmi mengoperasikan Kereta Petani dan Pedagang. Langkah ini bisa dibilang sebuah terobosan segar untuk pemerataan ekonomi di Banten.

Yang bikin makin menarik, tarifnya cuma tiga ribu rupiah per orang. Murah banget, kan? Ini berkat skema subsidi PSO dari Kementerian Perhubungan. Dengan harga segitu, diharapkan para petani dan pedagang kecil benar-benar terbantu mobilitasnya. Mereka bisa mengangkut hasil bumi atau dagangan tanpa harus pusing mikir ongkos mahal.

Kereta ini sendiri adalah hasil kolaborasi KAI Group dan Ditjen Perkeretaapian. Proses modifikasi dan desainnya ditangani langsung oleh Balai Yasa Surabaya Gubeng. Mereka yang menyesuaikan interior, menata ruang bagasi yang lapang, dan memastikan sistemnya mendukung kebutuhan para pengguna.

“Inovasi ini dihadirkan untuk memudahkan petani dan pedagang dalam mengangkut hasil bumi dan barang dagangan dengan aman, cepat, dan antimacet di perjalanan,”

Demikian pernyataan KAI yang diunggah di akun media sosial @kai121_, Selasa kemarin.

Lalu, seperti apa sih fasilitasnya? Kereta ini punya kapasitas 73 tempat duduk. Ruang bagasinya luas, dirancang khusus untuk barang. Setiap hari, layanan ini dirangkaikan pada 14 perjalanan Commuter Line Merak, melayani rute dari Rangkasbitung hingga Merak dengan 11 pemberhentian. Setiap penumpang diperbolehkan membawa dua koli barang berukuran besar.

Untuk naik, caranya gampang-gampang susah. Pelanggan tetap bisa mendaftar Kartu Petani dan Pedagang. Tiketnya bisa dibeli mulai H-7, dan proses boarding-nya dilakukan lebih awal. Kalau enggak punya kartu? Masih ada peluang, kok, asalkan kuota tiket umumnya masih tersisa.

Soal keamanan, KAI memastikan seluruh rangkaian sudah lulus uji teknis dan sertifikasi. Jadi, soal keselamatan dan kenyamanan, sudah terjamin.

Respon di hari pertama ternyata cukup menggembirakan. Ada 95 pengguna yang langsung memanfaatkan fasilitas baru ini. Mereka membawa bermacam-macam, mulai dari hasil pertanian segar, olahan makanan, sampai kerajinan tangan.

Di sisi lain, kehadiran kereta ini juga dilihat sebagai wujud nyata keberpihakan pemerintah. Khususnya Presiden Prabowo Subianto, yang memang punya visi membangun dari desa. Tujuannya jelas: mendorong pemerataan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan.

Dengan kebijakan transportasi yang inklusif dan tarif bersubsidi, akses mobilitas para pelaku usaha rakyat jadi makin terbuka. Distribusi hasil bumi diharapkan bisa lebih cepat dan efisien. Pada akhirnya, semua ini diharapkan bisa meningkatkan pendapatan, memperkuat daya saing, dan tentu saja, meningkatkan kualitas hidup mereka.

Inovasi KAI ini sekaligus menegaskan perannya bukan cuma sebagai operator komersial. Lebih dari itu, mereka ingin hadir sebagai penyedia layanan sosial yang inklusif untuk masyarakat luas. Sebuah langkah kecil yang dampaknya mudah-mudahan terasa besar di lapangan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar