Hujan yang mengguyur tanpa henti akhirnya memicu malapetaka di Tapanuli Utara. Minggu lalu, banjir bandang dan tanah longsor menghantam Desa Sibalanga, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Situasi yang memprihatinkan ini langsung mendapat respons dari Partai Persatuan Indonesia (Perindo). Mereka bergerak cepat menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk warga yang terdampak.
Angela Tanoesoedibjo, sang Ketua Umum DPP Partai Perindo, turun langsung ke lokasi. Ia tak sendirian. Kehadirannya didampingi oleh Bupati Tapanuli Utara, Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, yang juga menjabat sebagai Ketua DPW Perindo Sumut. Beberapa pengurus partai di daerah itu pun ikut serta dalam kunjungan tersebut.
Bantuan yang dibawa beragam sekali. Mulai dari makanan siap saji, pakaian layak pakai, sampai perlengkapan sekolah seperti buku dan alat tulis. Tak lupa, obat-obatan juga disiapkan untuk kebutuhan mendesak. Semua barang logistik itu kemudian dibagikan kepada ratusan warga yang terpaksa mengungsi dan tinggal di posko-posko darurat.
Menurut pernyataan Partai Perindo, aksi ini adalah wujud nyata semangat 'Energi Baru Indonesia'. Para kadernya diinstruksikan untuk tidak sekadar memberi bantuan sesaat. Mereka ditugaskan membangun sinergi dengan berbagai pihak, fokus pada pemulihan jangka panjang masyarakat setelah bencana berlalu.
Menyaksikan bantuan yang datang, Bupati Jonius Hutabarat menyampaikan rasa terima kasihnya.
"Karena semua masyarakat sudah mendapat bantuan bahan makanan yang tinggal di rumah. Dan bagi yang di posko kita tetap menyediakan bahan-bahan makanan untuk tetap selalu tersedia di sana," ucap Jonius kepada media, Minggu (7/12/2025).
Namun begitu, kebutuhan warga ternyata lebih kompleks. Jonius mengungkapkan, selain pangan, ada hal mendesak lain yang harus dipenuhi.
"Kita pun berharap bantuan yang cepat saat ini seperti pakaian khususnya untuk anak-anak dan orang tua. Pampers juga perlu," ungkapnya.
Ia menjelaskan, banyak perlengkapan sekolah anak-anak yang hanyut atau rusak terendam banjir. Itu sebabnya, bantuan alat tulis dan seragam sekolah sangat dinantikan.
Data di lapangan cukup menggambarkan betapa besarnya dampak bencana ini. Sekitar 200 Kepala Keluarga atau setara dengan 1.010 jiwa harus mengungsi. Mereka tersebar di enam titik pengungsian. Konsentrasi terbesar ada di Posko HKBP Sibalanga, yang menampung 60 KK (sekitar 600 jiwa). Sementara itu, Posko Kantor Desa menampung 30 KK atau kurang lebih 350 jiwa.
Secara keseluruhan, angka korban memang masif. Bencana ini disebut telah mengganggu kehidupan sekitar 15.000 warga. Yang memilukan, korban jiwa yang meninggal dunia dilaporkan mencapai 36 orang. Pencarian masih terus dilakukan untuk 11 warga lainnya yang hingga kini dinyatakan hilang.
Artikel Terkait
KSPSI Pastikan Biaya May Day di Monas Tidak Gunakan APBN Sepeser Pun
Bosch Targetkan Pertumbuhan Penjualan 2-5 Persen pada 2026, Genjot Inovasi dan Ekspansi Pasar Global
Influencer China Bai Bing Didenda Rp47,98 Miliar Akibat Kurang Bayar Pajak
Uni Eropa Dakwa Meta Gagal Lindungi Anak di Bawah 13 Tahun dari Akses Facebook dan Instagram