BNI Selesaikan Pembersihan Aset, Siap Pacu Kredit pada 2026

- Minggu, 07 Desember 2025 | 22:25 WIB
BNI Selesaikan Pembersihan Aset, Siap Pacu Kredit pada 2026

Lima tahun terakhir, BNI punya cerita sendiri. Bank pelat merah itu getol menjalankan program de-risking, dan kini, hasilnya mulai terlihat. Bukan cuma angka-angka di laporan keuangan yang membaik, tapi fondasi untuk tumbuh ke depan disebut-sebut jauh lebih kokoh.

Ingat masa pandemi? Saat itu, industri perbankan benar-benar tertekan. NPL membengkak, laba merosot. BNI, seperti bank lain, merasakan dampaknya. Nah, sejak 2020 itulah mereka merancang strategi khusus: menata ulang portofolio, memperbaiki kualitas aset, dan membangun ketahanan perusahaan. Intinya, mereka tak mau sekadar bertahan, tapi ingin bangkit dengan struktur yang lebih sehat.

Menurut Razqi M. Kurniawan, analis dari Bahana Sekuritas, program ini dirancang untuk membersihkan kredit bermasalah dan menggeser eksposur ke sektor serta debitur yang lebih kuat. Prosesnya berjalan sistematis, fokus pada pengetatan manajemen risiko.

"Bahana Sekuritas memantau lekat program tersebut, mencatat adanya perubahan signifikan dalam fundamental BNI sejak tahun 2023. Salah satu yang terpenting adalah penurunan biaya kredit (cost of credit/CoC) yang berlangsung konsisten selama lima tahun,"

Ujar Razqi dalam risetnya yang dikutip awal Desember lalu. Dan memang, angka CoC pada September 2025 sudah menyentuh level 1 persen yang terendah sepanjang periode transformasi ini. Bahkan, trennya diproyeksikan terus turun ke 0,9 persen di tahun depan. Ini sinyal kuat bahwa kualitas kredit mereka sedang dalam tren membaik.

Lalu, bagaimana dengan kredit bermasalah? Di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang, rasio NPL BNI justru stabil di angka 2 persen. Yang lebih menggembirakan, kemampuan bank dalam menyerap risiko meningkat drastis. Rasio NPL coverage-nya melonjak sampai 222,7 persen. Angka pencadangan setebal itu termasuk yang tertinggi di industri, menunjukkan bantalan risiko mereka sangat memadai. Artinya, BNI punya ruang lebih lega untuk menghadapi gejolak tanpa perlu panik menambah cadangan.

Dengan portofolio yang lebih bersih dan risiko yang terkendali, Bahana Sekuritas menilai BNI kini siap memasuki babak baru. Bank ini disebut-sebut sebagai salah satu BUMN perbankan yang paling siap untuk ekspansi kredit agresif tahun depan.

Faktor pendukungnya datang dari mana? Selain dari membaiknya kualitas aset, biaya dana mereka juga turun. Ini berkat pertumbuhan dana murah (CASA) yang mencapai 13,3 persen, menjadi Rp613,4 triliun per September 2025. Dana murah yang melimpah tentu membuka ruang profitabilitas yang lebih lebar.

"BNI telah menyelesaikan sebagian besar proses de-risking dan kini memasuki siklus kredit yang lebih sehat dan lebih menguntungkan,"

Kata Razqi menambahkan. Strategi mereka kini berubah. Setelah membersihkan rumah, BNI mengombinasikannya dengan ekspansi ke segmen-segmen yang dianggap tahan banting, seperti pembiayaan wholesale berisiko rendah, industri ekspor, dan tak ketinggalan, sektor hijau yang sedang naik daun.

Jadi, narasinya kini bergeser. Dari bank yang fokus pemulihan, menjadi bank yang siap tumbuh lagi. Pandangan pasar pun mulai sejalan. Penurunan CoC yang konsisten, portofolio yang lebih bersih, dan risiko yang terjaga membuat BNI dipandang punya potensi peningkatan profitabilitas yang kuat dalam beberapa tahun ke depan. Mereka seperti sudah melewati masa sulit dan kini siap menjemput momentum.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini