Menteri UMKM Soroti Banjir Barang Impor Tanpa Label, Ancaman Lebih Serius dari Thrifting

- Minggu, 07 Desember 2025 | 21:15 WIB
Menteri UMKM Soroti Banjir Barang Impor Tanpa Label, Ancaman Lebih Serius dari Thrifting

Menteri UMKM Maman Abdurrahman punya pandangan menarik soal persaingan yang dihadapi pengusaha lokal. Bukan cuma soal tren thrifting atau jual beli baju bekas impor yang ramai dibicarakan. Ada masalah lain yang, menurutnya, justru lebih berbahaya.

Ancaman itu adalah membanjirnya barang-barang baru impor tanpa label, tanpa pengawasan ketat. Barang-barang itu masuk dalam jumlah sangat besar, seringkali dari China, dan langsung membanjiri pasar.

Usai menghadiri Indonesia Sport Summit 2025 di Jakarta, Minggu lalu, Maman menjelaskan lebih lanjut.

"Thrifting ini baju-baju impor bekas, tapi ada lagi yang merugikan, yaitu baju-baju, barang-barang yang baru, impor dari China. Itu tidak ada labelnya, masuk dengan jumlah yang banyak sekali,"

Katanya. Intinya, pemerintah nggak bisa fokus cuma pada barang bekas saja.

Menurut sejumlah saksi, saat ini gampang ditemui pakaian, sepatu, hingga aksesori impor yang membludak. Mereka datang per kontainer, tanpa proses saringan yang memadai. Situasi ini bikin industri dalam negeri tertekan.

"Jangan hanya melihat impor baju bekas saja, tetapi baju-baju baru yang masuk tanpa label, tanpa identitas, itu jumlahnya luar biasa. Ini yang lagi mau kita dalami dan batasi, jadi supaya barang kita juga bisa saing,"

tegas Maman.

Di sisi lain, Maman juga menekankan pentingnya kebijakan yang seimbang. Impor tetap diperlukan untuk produk-produk yang belum bisa diproduksi dengan baik di dalam negeri. Namun begitu, untuk barang yang sudah mampu dibuat oleh UMKM dan industri lokal, harus ada pembatasan. Tujuannya jelas: memberi ruang bernapas bagi produk lokal.

"Kalau kita belum bisa produksi, silakan impor. Tetapi kalau kita sudah bisa produksi, ya kita batasi dong. Supaya barang lokal ini punya pasar,"

pungkasnya.

Jadi, narasinya lebih kompleks dari sekadar larangan thrifting. Ada perang dagang skala kecil yang sedang berlangsung di pasar kita, dan pemerintah berusaha mencari titik tengahnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar