Di tengah desakan global untuk beralih ke energi hijau, kabar dari Jakarta justru menyuarakan hal berbeda. Hashim Djojohadikusumo, selaku Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia, secara tegas menyatakan pemerintah tidak akan melakukan penghapusan bertahap atau phase out terhadap energi fosil. Intinya, batu bara dan gas alam masih akan menjadi tulang punggung pasokan listrik kita untuk waktu yang lama.
Pernyataan ini disampaikan Hashim dalam pidatonya di acara penutupan Rapimnas Kadin 2025, Selasa lalu. Acara itu digelar di The Park Lane, Jakarta Pusat.
Menariknya, pembicaraan ini justru berawal dari komitmen iklim Indonesia di forum internasional. Hashim mengingatkan sikap pemerintah dalam konferensi COP 30 di Brazil beberapa waktu lalu.
"Saya bawa pesan tindak lanjut dari komitmen pemerintah kita untuk mendukung inisiatif prakarsa dari Presiden Brazil. Yaitu suatu dana khusus untuk memelihara, memulihkan kembali, merestorasi, dan merawat hutan-hutan tropis yang dalam keadaan kritis, namanya Tropical Forest Forever Fund atau TFFF," jelas Hashim.
Dalam forum tersebut, Presiden Prabowo Subianto bahkan berkomitmen menyumbang satu miliar dolar AS untuk dana itu. Tapi, di sisi lain, ada pesan lain yang tak kalah penting.
"Yang penting waktu itu, ada ketegasan dari pemerintah kita bahwa tidak ada phase out dari fossil fuels kita. Pemakaian ekonomi Indonesia, terutama industri dan energi listrik Indonesia, tetap akan memakai fossil fuels, yaitu batu bara, gas alam, dan lain-lain," tegasnya.
Lalu bagaimana dengan target energi bersih? Hashim, yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Perubahan Iklim, punya jawabannya. Meski tak menghapus energi fosil, pemerintah punya komitmen lain.
"Komitmen pemerintah kita dalam 15 tahun ke depan, bahwa 75 persen dari daya listrik yang akan dibangun di Indonesia itu berasal dari energi baru dan terbarukan. Itu komitmen Indonesia. Tidak ada phase out, tidak ada nanti penghapusan, melainkan kita phase down," kata Hashim.
Jadi, strateginya adalah mengurangi intensitas pemakaian, bukan menghentikannya sama sekali. Sebuah jalan tengah yang, bagi banyak pihak, mungkin terasa seperti tarik-ulur antara tuntutan ekonomi dan tekanan lingkungan.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Perusahaan China Incar Peluang Besar di Balik Target PLTS 100 GW Indonesia, Soroti Kebutuhan Teknologi Penyimpanan Energi
Presiden Prabowo Resmikan RSUD Lampung Barat dan Buka Munas Hipmi 2026 di Lampung
Investor China dan Hong Kong Dilarang Ikut IPO SpaceX, Alihkan Buruan ke Saham Terkait
Ekonom: RI Tak Akan Ulangi Krisis 1998, Tantangan Kini Bergeser ke Daya Beli Kelas Menengah