Di sisi lain, proses hukum sudah bergulir. Polisi telah menahan 14 orang, mencakup kontraktor utama, konsultan, hingga subkontraktor yang bertanggung jawab atas perancah bangunan. Mereka menghadapi pertanyaan berat.
Sementara korban terus berjatuhan. Hingga Senin malam, angka kematian resmi mencapai 151 orang, dengan 79 lainnya terluka. Kabar soal penghuni yang hilang pun sempat membingungkan.
Pihak berwenang awalnya menyebut 159 orang dinyatakan hilang, lalu direvisi karena ternyata mereka ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, polisi punya data berbeda.
Tsang Shuk Yin, dari unit penyelidikan Kepolisian Hong Kong, menyatakan sekitar 40 orang masih belum ditemukan.
"Angka hilang lebih dari 100 orang itu tidak berdasarkan data valid dan informasi lengkap," tegas Tsang, mencoba meluruskan kebingungan yang ada.
Tragedi ini tercatat sebagai yang terburuk di Hong Kong dalam beberapa dekade terakhir. Sebuah investigasi menyeluruh masih terus dilakukan, bukan hanya untuk menuntaskan daftar korban, tapi juga untuk memastikan kelalaian semacam ini tidak terulang lagi. Kota itu kini belajar pada cara yang paling pahit.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar