"Setiap komandan lapangan wajib membuat laporan terperinci mengenai cara bertindak dalam lima tahapan unras dalam bentuk decision log sebagai bahan evaluasi dan akuntabilitas untuk meningkatkan profesionalisme penanganan unras ke depan," tegas Dedi.
Di sisi lain, ia menekankan peran penting para Kapolres. Mereka, kata Dedi, adalah calon pemimpin Polri masa depan. Kualitas merekalah yang akan menentukan arah perubahan institusi ini.
"Para Kapolres adalah calon pemimpin Polri di masa depan, sehingga perubahan Polri ke arah yang lebih baik ditentukan oleh kualitas SDM yang mengisinya," ucapnya.
Dedi juga ingin meluruskan persepsi. Polri, katanya, bukanlah institusi yang anti kritik. Justru sebaliknya, masukan dari masyarakat, akademisi, dan pemerhati diterima dengan baik sebagai dasar perbaikan.
"Polri bukan organisasi antikritik. Masukan dari masyarakat, akademisi, dan pemerhati menjadi dasar bagi Polri untuk berubah menjadi lebih profesional dan dipercaya publik," katanya.
Di akhir arahannya, dia mengapresiasi kinerja jajaran Polri setahun terakhir. Tapi dia juga mengingatkan pentingnya menyamakan visi dengan program Akselerasi Transformasi Polri dan Quick Wins.
Tak lupa, dia mengajak semua pihak belajar dari peristiwa masa lalu seperti Agustus Kelabu dan Black September. Khususnya soal kelayakan tenda personel di lapangan, yang menurutnya harus segera diperbaiki agar lebih layak mengingat pergantian pasukan bisa berlangsung hingga satu bulan.
Artikel Terkait
Bobotoh Kepincut Kapten Persija, Rizky Ridho Jadi Rebutan Jelang Duel Klasik
OKI Kecam Israel: Pengakuan Somaliland Dinilai Langgar Kedaulatan Somalia
Kekejaman di Clay County: Seorang Pria Tewaskan Enam Orang, Termasuk Anak 7 Tahun
Diskon Pajak Bodong di Jakarta Utara, Skema Korupsi Ternyata Berulang