Nigeria Berduka: 303 Siswa dan 12 Guru Disandera Kelompok Bersenjata

- Minggu, 23 November 2025 | 07:15 WIB
Nigeria Berduka: 303 Siswa dan 12 Guru Disandera Kelompok Bersenjata
Penculikan di Nigeria

Suasana mencekam menyelimuti Nigeria. Sejak Jumat lalu, tepatnya tanggal 21 November 2025, kelompok bersenjata menyandera 303 siswa dan 12 guru dari Sekolah Katolik St Mary di Negara Bagian Niger. Hingga berita ini diturunkan, nasib mereka masih gelap.

Bulus Dauwa Yohanna, Ketua Asosiasi Kristen Nigeria (CAN) untuk wilayah Niger, memberikan penjelasan yang makin membuat hati ciut. Awalnya, laporan pada Sabtu menyebut 215 siswa yang menjadi korban. Tapi angka itu ternyata melonjak.

Yang membuat situasi makin runyam, serangan ini terjadi berdekatan dengan aksi serupa di Kota Maga, Negara Bagian Kebbi. Di sana, kelompok bersenjata menyerbu sebuah sekolah menengah dan menyapu 25 siswi. Untungnya, satu berhasil kabur. Tapi dua puluh empat lainnya masih hilang. Jarak antara kedua lokasi kejadian ini sekitar 170 kilometer.

Hingga saat ini, belum ada satu pun kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Pihak berwenang sudah bergerak cepat, mengerahkan regu taktis yang dibantu para pemburu lokal untuk memburu dan menyelamatkan para korban.

Dilihat dari klasifikasinya, Sekolah Katolik St Mary adalah sekolah menengah. Namun begitu, citra satelit memperlihatkan kompleks yang cukup luas. Sekolah ini menyambung dengan sebuah sekolah dasar dan terdiri dari lebih 50 bangunan, termasuk ruang kelas dan tentu saja, asrama.

Kompleks sekolah itu berada di Kota Papiri, persis di dekat jalan utama yang menghubungkan Yelwa dan Mokwa.

Di sisi lain, kepanikan melanda warga. Keluarga-keluarga berhamburan, mencari-cari anak mereka yang hilang.

Dauda Chekula, seorang kakek berusia 62 tahun, merasakan langsung nestapa ini. Empat cucunya, yang masih berusia belia antara 7 hingga 10 tahun, turut menjadi mangsa.

"Kami tidak tahu apa yang terjadi sekarang, karena kami belum mendengar kabar apa pun,"

katanya, suaranya penuh kepedihan, kepada The Associated Press.

Sedikit cerita yang muncul adalah tentang sebagian anak yang berhasil melarikan diri saat mereka digiring paksa masuk ke dalam semak-semak.

Pemerintah Negara Bagian Niger sendiri mengeluarkan pernyataan resmi. Isinya menyebutkan bahwa mereka sebenarnya sudah punya informasi intelijen tentang ancaman yang membayangi wilayah tersebut. Bahkan, surat peringatan untuk menutup sementara aktivitas sekolah sudah dikeluarkan.

Yang menjadi sorotan, pernyataan itu juga mengungkap bahwa Sekolah St Mary ternyata tetap buka meski sudah dapat peringatan. Itu pun dilakukan tanpa meminta izin dari pemerintah setempat.

Rentetan peristiwa mengerikan ini memaksa Presiden Bola Tinubu mengambil langkah darurat. Dia membatalkan kunjungannya ke KTT G20 di Afrika Selatan. Wakil Presiden, Kashim Shettima, yang akhirnya berangkat menggantikannya.

Gelombang penculikan dan serangan terhadap gereja pada awal pekan ini terjadi di tengah situasi politik yang sedang memanas. Beberapa pekan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melakukan aksi militer ke Nigeria. Dia menuding pemerintah gagal melindungi umat Kristen.

Tuduhan itu pun dibantah keras oleh pemerintah Nigeria. Mereka menegaskan bahwa justru Muslim lah yang menjadi mayoritas korban dalam serangan-serangan kelompok bersenjata selama ini.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar