Luhut Binsar Panjaitan Disebut Sebagai "Dewa" Penyelesaian Proyek Kereta Cepat Whoosh
Nama Luhut Binsar Panjaitan kembali mencuat sebagai figur sentral dalam proses pengalihan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Whoosh) dari Jepang kepada China. Tudingan ini disampaikan secara terbuka dalam sebuah diskusi publik.
Klaim Mantan Waka KPK dalam Diskusi Virtual
Mantan Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, secara tegas menyebut Luhut sebagai aktor penting. Pernyataan ini disampaikannya dalam diskusi virtual bertajuk "Whoosh: Proyek Sosial, Politik, Bisnis, atau Lahan Korupsi" yang digelar oleh Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita.
"Dia (Luhut) di situ jadi dewa menyelesaikan kebusukan itu," ujar Saut Situmorang, seperti dikutip dari siaran ulang YouTube Insan Cita.
Peran Luhut dalam Penyediaan Payung Hukum
Saut Situmorang memaparkan kronologi dimana Luhut Binsar Panjaitan dianggap berperan dalam menyelesaikan persoalan payung hukum. Hal ini dinilai mempermudah China mengambil alih proyek kereta cepat Whoosh yang semula direncanakan untuk Jepang.
"Kan ada dua Perpres (Peraturan Presiden), satu PMK (Peraturan Menteri Keuangan). Dua Perpres itu pun mensrea, kelihatan nanti dari situ. Karena Perpres yang kedua, yang 2020 itu sebenarnya kan menunjuk Luhut menjadi Dewa di situ," jelasnya.
Perbedaan Kebijakan Awal dan Perubahan Perpres
Lebih dalam, Saut mengungkap adanya perbedaan mendasar antara peraturan yang mengawali proyek dan peraturan yang kemudian diterbitkan. Pada awal penggagasan proyek oleh mantan Presiden Joko Widodo di tahun 2015, berlaku Perpres 107/2015.
Perpres ini disebut sangat berbeda dengan Perpres 93/2021 yang diurus pada masa Luhut. "Sebelumnya di Perpres 107/2015 itu kan sudah jelas bahwa nggak ada urusan-urusan APBN dan seterusnya. Nah di situ juga nanti mensreanya kelihatan, bagaimana penyimpangan itu terjadi. Niat jahat itu kan penyidik itu akan sudah paham," tambah Saut menegaskan.
Isu ini terus menjadi perbincangan publik seiring dengan operasional penuh kereta cepat Whoosh dan berbagai evaluasi yang menyertainya.
Artikel Terkait
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir
Analis Bongkar Agenda Terselubung di Balik Janji Kerja Mati-Matian Jokowi untuk PSI