Ulil vs Cak Imin: Tarik-Tambang di Tubuh PBNU Soal Konsesi Investor

- Rabu, 03 Desember 2025 | 12:25 WIB
Ulil vs Cak Imin: Tarik-Tambang di Tubuh PBNU Soal Konsesi Investor

MURIANETWORK.COM - Kritik keras dari Ulil Absar Abdalla, Ketua PBNU, menuai respons. Kali ini, ia menyoroti kelompok yang secara total menolak aktivitas pertambangan dan memandang alam sebagai sesuatu yang sakral, tak boleh diganggu. Bagi Ulil, pandangan seperti itu perlu dikoreksi.

Alasannya sederhana, tapi kuat. Coba lihat sekeliling. Hampir semua barang yang kita nikmati sehari-hari, dari ponsel, energi, hingga perangkat kerja, punya jejak hasil tambang. Mustahil, menurutnya, menghapus total industri ini dari kehidupan modern.

Namun begitu, Ulil tak lupa menegaskan poin penting. Pertambangan itu boleh, bahkan perlu. Tapi syaratnya jelas: harus taat aturan, jangan sampai merusak lingkungan, dan mitigasi kerusakan wajib dilakukan. Baginya, kekayaan alam Indonesia mineral, emas, nikel, migas adalah anugerah Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan bangsa.

Tanggapan datang dari Muhaimin Iskandar. Menko Pemberdayaan Masyarakat yang juga Ketum PKB itu menyentil dengan gaya khasnya, penuh satir.

“Kayak 17 Agustus aja, main tarik-tambang,”

Demikian seloroh Cak Imin lewat akun X-nya, Rabu lalu. Komentar singkat itu seakan menyiratkan dinamika yang terjadi bukan cuma debat ide, tapi juga tarik-menarik kepentingan.

Dinamika itu ternyata punya konteks lebih dalam. Sebelumnya, Ulil juga menyebut bahwa kisruh di internal PBNU belakangan ini berakar dari perbedaan pandangan antara dua kiai besar: Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Lantas apa masalahnya? Intinya berkisar pada soal investor. Pemerintah memberikan konsesi tambang untuk PBNU, tapi kemudian muncul silang pendapat soal siapa yang sebaiknya mengelola. Gus Yahya disebut ingin mengganti investor lama dengan yang baru, yang dianggap lebih seirama dengan pemerintahan saat ini dan punya posisi politik kuat.

Di sisi lain, Gus Ipul bersikukuh mempertahankan investor lama. Alasannya, hubungan kerja sama itu sudah terjalin sejak era kepemimpinan Jokowi. Perbedaan inilah yang, menurut sejumlah pengamat, memicu ketegangan di tubuh organisasi Nahdliyin tersebut.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar