Harapan dan Kenyataan Pahit
Penerbangan MH370 yang hilang tahun 2014 itu membawa 239 orang. Mayoritas penumpangnya warga China, tapi ada juga warga dari belasan negara lain termasuk Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat.
Selama bertahun-tahun, beberapa puing yang dikonfirmasi sebagai bagian dari pesawat sempat terdampar di pantai Afrika dan pulau-pulau di Samudra Hindia. Temuan-temuan itu kemudian dianalisis buat mempersempit kemungkinan lokasi jatuhnya. Tapi ya itu, titik pastinya tetap jadi misteri. Bahkan untuk pencarian yang baru ini, pemerintah Malaysia masih merahasiakan lokasi spesifiknya. Mereka cuma bilang akan fokus ke area yang dinilai punya probabilitas tertinggi.
Laporan investigasi resmi Malaysia di 2018 dulu menyimpulkan pesawat itu dibelokkan secara manual. Mereka nggak bisa kesampingkan kemungkinan campur tangan pihak ketiga, tapi juga membantah teori bunuh diri pilot atau kegagalan teknis sebagai penyebab utama.
Di tengah semua itu, harapan terbesar tentu datang dari keluarga korban. Mereka menyambut baik rencana pencarian baru ini.
Danica Weeks, yang suaminya, Paul, adalah salah satu penumpang, bicara dengan nada haru.
Rasanya, setelah sekian lama, semua orang cuma pengin tutup buku dengan jawaban yang pasti. Entah pencarian kali ini akan berakhir seperti apa.
Artikel Terkait
Pesan Terakhir Ridwan Kamil untuk Atalia: Kebahagiaan Buat Bu Atalia
Prabowo Jelaskan Alasan Tak Tetapkan Bencana Nasional untuk Aceh dan Sumatera
Sayap Pesawat Terbang Terbawa Angin Puting Beliung, Kemenhub: Itu Sudah Bukan Aset Negara
Antrean Panjang di Ragunan, Liburan Murah yang Tak Pernah Sepi Pengunjung