Kembali Bersepeda, Menemukan Ritme Hidup yang Lebih Sunyi

- Minggu, 28 Juni 2026 | 06:06 WIB
Kembali Bersepeda, Menemukan Ritme Hidup yang Lebih Sunyi

Tiga tahun setelah berhenti mengayuh, seorang jurnalis memutuskan membeli sepeda lipat. Bukan sekadar alat transportasi atau olahraga, keputusan ini lahir dari kesadaran baru tentang tubuh, waktu, dan cara bergerak di tengah kota yang semakin mahal dan bising. Harga bahan bakar minyak yang terus naik menjadi alasan praktis, tetapi ada dorongan lebih personal: mengembalikan tubuh ke orbitnya sendiri, melawan gaya hidup yang terlalu banyak duduk dan menatap layar.

Bersepeda, bagi penulis, bukanlah aktivitas yang benar-benar baru. Ia seperti membuka kembali ruang lama yang sempat ditinggalkan. Namun kembali melakukannya bukan sekadar mengulang masa lalu. Tubuh yang lebih tua, waktu yang lebih sempit, dan kesadaran yang lebih banyak bertanya membuat pengalaman ini terasa seperti memulai ulang dari titik yang berbeda. Sepeda lipat yang kecil dan ringkas menjadi simbol untuk tidak berlebihan dalam membawa hidup.

Dalam biografi singkat yang biasa ia tulis, penulis kini menambahkan identitas baru: cyclist. Sebuah penanda pergeseran cara memandang tubuh, ruang, dan waktu. Dari sekadar berjalan menjadi mengayuh lebih jauh, lebih cepat, tetapi tetap dalam ritme yang ia tentukan sendiri.

Antara Hemat Energi dan Politik Tubuh

Alasan paling praktis di balik keputusan ini adalah harga bahan bakar minyak non-subsidi yang meningkat. Dalam konteks itu, sepeda bukan lagi sekadar alat olahraga atau nostalgia, melainkan bagian dari strategi hidup yang lebih rasional. Ia menjadi respons kecil terhadap ekonomi yang berubah dan kota yang semakin mahal untuk ditinggali dengan kendaraan bermotor.

Namun di luar kalkulasi ekonomi, ada sesuatu yang lebih sunyi dan personal. Bersepeda adalah cara mengembalikan tubuh ke dalam orbitnya sendiri. Di tengah hidup yang makin banyak duduk, tubuh perlahan kehilangan disiplin dasarnya: bergerak secara sadar. Studi kesehatan modern, termasuk rekomendasi WHO, menegaskan bahwa aktivitas fisik moderat seperti bersepeda mampu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, memperbaiki metabolisme, dan menjaga kesehatan mental. Tetapi bagi penulis, pengetahuan itu hanya valid ketika berubah menjadi pengalaman yang terasa di otot, napas, dan keringat.

Di titik ini, sepeda bukan hanya alat transportasi. Ia adalah pengingat bahwa tubuh tidak diciptakan untuk diam terlalu lama.

Peta yang Mulai Tumbuh di Kepala

Dalam beberapa hari terakhir, penulis mulai membayangkan rute-rute yang akan ditempuh. Bukan peta digital di layar ponsel, melainkan peta mental yang tumbuh pelan-pelan, seperti ingatan yang mencari bentuknya kembali. Ada masjid di tengah teluk yang ingin didatangi, lintasan yang mengitari garis air hingga jembatan teluk, dan jalur menuju bandara tempat orang datang dan pergi tanpa sempat menetap. Semua rute itu mengandung cerita yang belum selesai, dan ia ingin melaluinya perlahan, tanpa terburu-buru menjadi siapa pun.

Penulis juga membayangkan perjalanan yang lebih ringan: menelusuri jejak kuliner lokal, berhenti di warung-warung kecil yang selama ini hanya dilewati, menamatkan makanan tradisional yang ia sebut eksotis tetapi bagi masyarakat setempat adalah keseharian. Atau menuntun sepeda ke pasar, menyusuri lorong-lorong sempit, memilih bahan makanan yang lebih jujur: sayuran, buah-buahan, protein alami. Ada keinginan untuk menjadikan perjalanan ini bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi cara membaca ulang kota dari kecepatan yang mendominasi menjadi keheningan yang lebih reflektif.

Antara Tren, Ego, dan Keinginan untuk Berbeda

Penulis tidak menutup mata bahwa ada sisi ego di balik keputusan ini. Saat pandemi Covid-19 membuat bersepeda menjadi tren besar, ia justru tidak ikut arus. Kini, ketika euforia mereda dan banyak orang mulai meninggalkannya, ia justru kembali mengayuh. Ada dorongan kecil untuk menjadi berbeda dari arus, untuk tidak sekadar hadir sebagai bagian dari keramaian yang seragam.

Namun jika ditarik lebih dalam, keputusan ini tidak sepenuhnya tentang menjadi berbeda. Ia lebih dekat pada upaya menguji ulang hubungan dengan tubuh dan waktu. Dalam teori psikologi perilaku, manusia sering bergerak bukan hanya karena kebutuhan rasional, tetapi juga karena dorongan identitas bagaimana ingin dilihat, dan lebih penting lagi, bagaimana melihat diri sendiri ketika tidak ada orang lain yang memperhatikan. Bersepeda, dalam konteks ini, menjadi ruang privat yang sangat jujur. Tidak ada panggung, tidak ada penonton. Hanya jalan, napas, dan ritme kayuhan.

SERBU dan Imajinasi Kolektif

Meski demikian, penulis juga membayangkan kemungkinan lain: bersepeda dalam kelompok kecil bersama teman-teman sejawat. Berangkat bersama, mengayuh satu hingga dua jam, lalu berhenti di UMKM untuk sarapan atau minum kopi. Dari situ lahir ide kecil yang ia sebut SERBU Semua Ramai-ramai Bantu UMKM.

Ada sesuatu yang menarik dari gagasan ini. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bentuk ekonomi mikro yang bergerak secara sosial. Membeli makanan di warung kecil, mempostingnya di media sosial, mungkin terdengar sederhana. Namun dalam skala tertentu, ia menciptakan sirkulasi perhatian: UMKM tidak hanya hidup dari transaksi, tetapi juga dari visibilitas. Penulis sadar ada risiko menjadikan semua ini sekadar pertunjukan sosial, membuat orang terlihat peduli tanpa benar-benar memahami maknanya. Di sinilah keraguan muncul: apakah bersepeda bersama lebih bermakna, atau justru bersepeda sendiri yang lebih jujur?

Sunyi di Antara Kayuhan

Pada akhirnya, penulis semakin menyadari satu hal: bersepeda mungkin paling jujur ketika dilakukan sendirian. Tidak ada ritme yang harus disesuaikan, tidak ada percakapan yang mengganggu napas, tidak ada keharusan mengikuti kecepatan orang lain. Sendiri membuat perjalanan lebih lentur, lebih organik. Bisa berhenti kapan saja, atau melaju tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.

Dalam kesendirian itu, kota tidak lagi sekadar latar. Ia menjadi teks yang terbuka untuk dibaca ulang. Jalanan yang sama bisa terasa berbeda ketika dilalui dengan kecepatan yang berbeda. Bahkan angin pun memiliki bahasa yang lebih jelas ketika tidak terganggu kebisingan lain. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, semua bayangan ini akan benar-benar berubah menjadi kenyataan: pedal yang berputar, jalan yang bergerak di bawah kaki, dan tubuh yang perlahan kembali belajar tentang ritme.

Lebih dari itu, bersepeda bukan sekadar tentang kembali ke aktivitas lama. Ia adalah cara menguji ulang hubungan kita dengan dunia yang semakin cepat, padat, dan bising. Apakah kita masih mampu bergerak tanpa tergesa-gesa? Apakah kita masih bisa menikmati jarak tanpa harus menaklukkannya? Di tengah kota yang terus mendorong kita untuk berlari, memilih mengayuh pelan adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi. Dan di dalam sunyi itu, kita justru menemukan kembali sesuatu yang sederhana: bahwa hidup tidak selalu harus dikejar. Kadang ia hanya perlu ditemani, satu kayuhan demi satu kayuhan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags