HARIAN, PADANG – Semua mata kini tertuju ke markas Dewa United. Nasib Semen Padang FC di kasta tertinggi sepak bola Indonesia benar-benar ada di tangan mereka. Pekan depan, pertemuan kedua tim bakal jadi laga penghakiman buat skuad Kabau Sirah. Kalah? Tamat. Degradasi dari Super League 2025/2026 pun jadi kenyataan pahit yang tak terhindarkan.
Tekanan ini luar biasa. Kebanggaan Ranah Minang, tim yang selalu didukung penuh suporter, kini terhuyung-huyung. Puncak keterpurukan terjadi saat mereka menjamu Madura United di Stadion Haji Agus Salim, Rabu (29/4/2026). Harapan besar justru berakhir pilu. Semen Padang harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor tipis 0-1. Gol tunggal Junior Brandao pada menit ke-15 sudah cukup menghancurkan perlawanan tuan rumah. Stadion pun hening.
Skenario Pahit di Klasemen
Hasil minor itu bikin posisi Semen Padang makin terpuruk di klasemen sementara. Mereka sekarang terdampar di peringkat ke-17 dengan raihan 20 poin dari 30 pertandingan. Cuma empat laga tersisa. Peluang bertahan? Ya, makin menipis.
Yang bikin sakit hati, Madura United itu pesaing langsung mereka dalam perebutan zona aman. Alih-alih memangkas jarak, selisih poin malah melebar jadi sembilan angka. Ironis, kan?
Keadaan ini bikin Kabau Sirah nggak cuma bergantung pada hasil kerja keras sendiri. Mereka juga harus berharap ada “keajaiban” tim-tim pesaing terpeleset di sisa musim. Masalah makin pelik karena Semen Padang juga kalah head-to-head dari Madura United. Jadi, finis dengan poin yang sama pun nggak bakal nolong mereka. Pahit memang.
Laga Hidup Mati Kontra Dewa United
Sekarang, fokus total tertuju ke laga pekan ke-31. Semen Padang bakal bertandang ke markas Dewa United. Skenarionya jelas. Tanpa ampun.
Kalau kalah dari Dewa United, Semen Padang dipastikan nggak mampu lagi mengejar perolehan poin Madura United. Selesai sudah.
Bahkan jika mereka menang di sisa laga lainnya, maksimal poin cuma 29. Itu nggak cukup buat keluar dari zona merah. Hitung-hitungannya nggak menguntungkan.
Tapi, menang atas Dewa United pun belum jadi jaminan aman. Mereka masih harus bergantung pada hasil pertandingan Madura United kontra Bali United beberapa hari setelahnya. Apabila Madura United berhasil mengamankan kemenangan, perjuangan Semen Padang tetap berakhir dengan degradasi. Betapa rumitnya.
Beban Mental dan Harapan Terakhir
Sejak awal musim, inkonsistensi jadi penyakit kronis yang nggak pernah sembuh. Lini pertahanan rapuh. Produktivitas gol tumpul. Kabau Sirah sering gagal memanfaatkan momen-momen penting. Di sisi lain, tekanan mental sekarang jadi tantangan terbesar buat para pemain. Apakah mereka sanggup?
Meski peluang bertahan tipis banget, dukungan suporter tetap jadi energi terakhir. Mereka masih percaya pada kejutan. Pekan ke-31 dipastikan jadi momen krusial. Entah Semen Padang bangkit, atau harus menerima kenyataan pahit turun kasta ke Liga 2 musim depan.
Sekarang, seluruh mata tertuju ke laga melawan Dewa United. Kesempatan terakhir menjaga asa di kasta tertinggi. Atau perpisahan yang menyedihkan.
Artikel Terkait
Persib Bandung Incar Puncak Klasemen Tanpa Eliano Reijnders dan Luciano Guaycochea Lawan Bhayangkara FC
Veda Ega Pratama Cetak Rekor Top Speed Moto3 Jerez, Comeback dari Posisi 17 ke Posisi 6
Indonesia Tantang Denmark di Perempatfinal Piala Uber 2026, Garuda Pertiwi Incar Semifinal
Nottingham Forest vs Aston Villa: Derby Inggris di Semifinal Liga Europa, Dua Klub Berburu Tiket Final Bersejarah