Doohan mengakui, Acosta sangat layak dapat kursi Ducati. "Acosta memiliki bakat luar biasa. Apa yang dia lakukan dengan KTM sungguh menakjubkan," pujinya. Tapi dia langsung menambahkan peringatan. "Ini akan sulit bagi mereka berdua. Mereka berdua orang Spanyol dan sangat berbakat."
Masalahnya, mereka berada di fase karier yang berbeda. Marquez sudah berada di puncak, seorang veteran yang matang. Sementara Acosta adalah pemburu muda yang ambisius, lapar akan kemenangan dan pengakuan.
"Marc tidak akan muda lagi, dan Anda memiliki pemain muda yang sedang mengumpulkan pengalaman, yang sangat cepat dan ingin mengalahkan pemain yang lebih tua, yaitu Marc," sambung Doohan.
Persaingan alot di trek jadi sesuatu yang niscaya. Namun, tensi itu bisa merembet ke dalam tim. Ambisi kedua pembalap yang sama-sama membara berpotensi memicu gesekan. Padahal, mereka akan menunggangi motor yang sama, motor terbaik di grid.
"Demikian pula, Marc tidak ingin dikalahkan oleh pemuda itu," ujar Doohan. Tapi dia sedikit meredakan. "Tetapi jika (Acosta) menjadi pembalap Ducati, itu tidak akan menjadi masalah. Jika (Marco) Bezzecchi mengendarai motor itu, hasilnya akan sama."
Intinya, menurut Doohan, motor Ducati yang kompetitiflah yang akan jadi penentu. Tapi satu hal pasti: menyatukan dua singa alpha dalam satu kandang? Itu selalu resep untuk drama.
Artikel Terkait
Barcelona Pertimbangkan Tur Asia 2026 untuk Penuhi Aturan Finansial La Liga
Sugiono Terpilih Aklamasi Pimpin IPSI, Erick Thohir Dorong Pencak Silat Go Internasional
Prabowo Minta Maaf Gagal Bawa Pencak Silat ke Olimpiade, Serahkan Estafet ke Sugiono
Timnas Futsal Indonesia Runner-up Piala AFF 2026, Takluk 1-2 dari Thailand