Di sisi lain, di ruang ganti tim tamu, nuansanya tentu berbeda. Kasper Hjulmand, pelatih Bayer Leverkusen, harus mengakui timnya tidak tampil maksimal. Ia berbicara jujur kepada media UEFA.
"Di babak pertama, kami membuat terlalu banyak kesalahan dalam situasi membangun serangan. Arsenal memberi banyak tekanan pada kami, tetapi kami tidak kebobolan banyak peluang besar, hanya beberapa bola mati, dan kemudian [Eberechi] Eze mencetak gol fantastis ini."
Meski perjalanan di Liga Champions harus berakhir di babak 16 besar, Hjulmand tidak kehilangan kebanggaan. Ia tiba di klub itu hanya pada bulan September, dengan skuad yang diisi 14 pemain baru. Awalnya memang sulit, tapi kemudian mereka menunjukkan perkembangan.
"Kami mengalami awal yang agak sulit dan kemudian kami melakukan beberapa hal yang sangat baik," kenangnya. Ia menyebut kemenangan-kemenangan penting di kandang lawan, seperti saat melawan Benfica dan Manchester City, sebagai bukti kemajuan tim.
"Saya rasa kita bisa bangga dengan pencapaian kita di musim persiapan seperti ini. Kita juga melihat ada perbedaan antara kita dan tim-tim terbaik di Eropa dan kita mengincar hal itu, sehingga kita bisa kembali ke turnamen yang indah ini dan mencoba untuk bersaing lagi. Itulah fokus kita."
Jadi, malam itu menyisakan dua perasaan. Kebahagiaan dan kepuasan bagi satu kubu, serta sebuah akhir yang dibalut rasa bangga dan tekad untuk kembali lebih kuat bagi kubu lainnya. Kompetisi memang selalu begitu.
Artikel Terkait
Ivar Jenner Dipastikan Fit, Siap Perkuat Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Arbeloa: Kemenangan atas Man City di Etihad Pencapaian yang Sulit dan Melegakan
Chelsea Tumbang Telak dari PSG, Mimpi Liga Champions Pupus
Marc Marquez Tegaskan Belum Ada Rencana Pensiun, Fokus ke Kompetisi