Di sisi lain, target klub pun terpaksa berubah drastis. Mimpi lima besar sudah pupus. Peringkat 13 dengan 23 poin, tertinggal 16 poin dari posisi kelima, sisa sepuluh laga… hitung-hitungannya jadi sangat sulit. Fokus utama sekarang cuma satu: bertahan.
“Targetnya kita adalah di bulan April itu sudah bisa mengamankan satu slot di Super League tahun depan,” tegas Fajrin.
Ia menekankan, tim tak boleh lagi memandang rendah atau tinggi lawan. Setiap laga harus dianggap final, dan poin adalah segalanya.
Dari sepuluh laga sisa, lima di kandang dan lima di tandang. Manajemen punya angka sakti: 41 poin. Itu dianggap sebagai ambang batas aman untuk menghindari degradasi, berdasarkan rata-rata poin tim yang terdegradasi dalam beberapa musim terakhir.
Pengamat sepak bola Toni Hon melihat langkah ini sebagai satu-satunya jalan yang realistis. Menurutnya, PSM harus segera sadar diri.
“Jangan pikir yang lain-lain lagi, target realistis bagaimana tidak degradasi,” kata Hon.
Begitulah situasinya. PSM sedang berjuang untuk sekadar bertahan, dan nasib seorang pelatih tergantung pada sisa pertandingan yang makin menegangkan. Semua mata kini tertuju ke ruang rapat manajemen dan lapangan hijau di Ternate nanti.
Artikel Terkait
Liverpool Tegaskan Alisson Tak Dijual, Nasib Mamardashvili Dipertanyakan
Kekalahan PSM Makassar Picu Kerusuhan Suporter dan Isu Pergantian Pelatih
Fajar/Fikri Lolos ke 16 Besar All England, Tantangan Berat Menanti Lawan Rekan Senegara
Dua Ganda Campuran Indonesia Pastikan Satu Tiket Perempat Final All England