Aldair Simanca dan Rafinha terlibat duel keras dalam latihan internal. Adu argumen pun terjadi, sebelum akhirnya diredam pemain senior. Gesekan serupa juga terlihat antara Fahmi Al Ayyubi dan Esteban Vizcarra.
Namun begitu, pelatih Andri Ramawi punya pandangan lain. Baginya, gesekan seperti itu wajar. Itu cermin dari daya saing yang sehat.
PSIS memang sedang di fase genting. Peluang keluar dari zona degradasi masih terbuka, tapi syaratnya harus meraih poin penuh di Balikpapan. Tekanannya luar biasa.
Rafinha datang dengan kepercayaan diri membumbung setelah tampil gemilang di dua laga terakhir. Sementara Aldair merasa perlu membuktikan diri lagi. Kompetisi internal makin ketat, dan itu mungkin justru yang dibutuhkan.
Kalau kita lihat lebih luas, ada fenomena menarik di Liga 2 musim ini. Tim-tim jebolan Liga Super seperti PSS dan PSIS ternyata tak otomatis mendominasi. Nama besar tak lagi jadi jaminan.
PSS harus buktikan bisa menang tanpa mesin golnya. Persela berjuang mencari stabilitas. PSIS bertarung melawan tekanan klasemen yang mencekik.
Pada akhirnya, Liga 2 musim ini lebih dari sekadar ajang teknis. Ini adalah ujian mental yang sesungguhnya.
Di sini, yang menentukan bukan cuma kualitas individu. Kedalaman skuad, soliditas tim, dan kemampuan mengelola emosi di bawah tekanan punya peran besar.
Karena di fase-fase akhir seperti ini, yang bertahan biasanya bukan yang paling bertalenta. Melainkan yang paling tangguh menghadapi krisis.
Artikel Terkait
Barcelona Pertimbangkan Tur Asia 2026 untuk Penuhi Aturan Finansial La Liga
Doohan Peringatkan Potensi Gesekan Jika Marquez dan Acosta Jadi Rekan Setim di Ducati
Sugiono Terpilih Aklamasi Pimpin IPSI, Erick Thohir Dorong Pencak Silat Go Internasional
Prabowo Minta Maaf Gagal Bawa Pencak Silat ke Olimpiade, Serahkan Estafet ke Sugiono