Latar Belakang Diplomatik yang Memanas
Ketegangan ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan buah dari memburuknya hubungan bilateral yang telah mencapai titik nadir. Pada Desember 2025, Israel secara resmi menutup kedutaannya di Dublin. Langkah ini merupakan balasan atas pengakuan berdaulat Negara Palestina oleh pemerintah Irlandia.
Lebih dari itu, Dublin secara konsisten mendukung proses di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait tuduhan genosida dan mengutuk keras serangan militer di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga. Sikap ini memicu kemarahan pejabat Israel. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, bahkan menuduh kebijakan Irlandia telah melampaui "garis merah" dan merupakan bentuk demonisasi.
Surat Perintah Penangkapan yang Menggantung
Puncak ketegangan terjadi ketika Perdana Menteri Irlandia, Simon Harris, menyatakan kesiapan negaranya untuk mengeksekusi surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Harris menegaskan, otoritas Irlandia akan menangkap PM Israel Benjamin Netanyahu jika ia datang ke wilayah mereka. Pernyataan ini merujuk pada keputusan ICC yang menjerat Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang.
Dengan latar belakang sedemikian rumit, jadwal pertandingan UEFA Nations League antara Irlandia dan Israel menjadi lebih dari sekadar agenda olahraga. Publik dan pengamat kini menunggu, apakah duel ini benar-benar akan terlaksana, atau justru menjadi momentum boikot yang mengukir sejarah baru dalam persinggungan antara sepak bola dan politik global.
Artikel Terkait
Irak Kalahkan Bolivia 2-1, Rebut Tiket Terakhir Piala Dunia 2026
PSM Makassar Terancam Eksodus, 11 Pemain Kunci Kontrak Habis
Dony Tri Pamungkas Bersinar di FIFA Series, Dipuji Pelatih dan Rekan Setim
Italia Gagal ke Piala Dunia 2026, Gattuso Minta Maaf Usai Kalah dari Bosnia