MURIANETWORK.COM - Undian UEFA Nations League 2026–2027 yang digelar di Nyon, Swiss, pada Jumat (13/2/2026), menghasilkan pengelompokan yang sarat ketegangan politik. Republik Irlandia, yang vokal menyerukan boikot terhadap Israel, justru ditempatkan satu grup dengan negara tersebut di League B Grup B3. Hasil ini berpotensi mengubah pertandingan sepak bola menjadi ajang konflik diplomatik, dengan Austria dan Kosovo sebagai dua peserta lain dalam grup yang sama.
Ironi di Tengah Hijau Lapangan
Nuansa ironis terasa begitu kental menyusul pengumuman hasil undian tersebut. Selama berbulan-bulan, suara dari Dublin termasuk yang paling lantang mendesak badan sepak bola Eropa untuk mengambil tindakan tegas terhadap Israel terkait situasi di Palestina. Namun, alih-alih menjauh, takdir justru mempertemukan kedua tim dalam kompetisi resmi. Pertemuan ini diprediksi tidak hanya akan berlangsung panas di atas rumput, tetapi juga menciptakan gelombang polemik yang jauh melampaui batas lapangan.
Dilema Pelatih di Tengah Tekanan
Di sisi teknis, pelatih timnas Republik Irlandia, Heimir Hallgrimsson, dihadapkan pada situasi yang serba sulit. Meski Federasi Sepak Bola Irlandia (FAI) menyatakan akan menghormati jadwal resmi UEFA, sikap pribadi sang pelatih tampak jelas. Dalam pernyataannya, Hallgrimsson berusaha menjaga keseimbangan antara prinsip kemanusiaan dan kewajiban profesionalnya.
"Pendirian saya tetap sama. Namun, keputusan apakah kami akan tetap bertanding melawan Israel atau tidak, berada di luar wewenang saya," tegasnya.
Ia kemudian menambahkan bahwa dirinya dan skuadnya dituntut untuk bersikap profesional, meski berada dalam situasi yang ia akui sangat canggung.
Latar Belakang Diplomatik yang Memanas
Ketegangan ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan buah dari memburuknya hubungan bilateral yang telah mencapai titik nadir. Pada Desember 2025, Israel secara resmi menutup kedutaannya di Dublin. Langkah ini merupakan balasan atas pengakuan berdaulat Negara Palestina oleh pemerintah Irlandia.
Lebih dari itu, Dublin secara konsisten mendukung proses di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait tuduhan genosida dan mengutuk keras serangan militer di Gaza yang telah menewaskan puluhan ribu warga. Sikap ini memicu kemarahan pejabat Israel. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa'ar, bahkan menuduh kebijakan Irlandia telah melampaui "garis merah" dan merupakan bentuk demonisasi.
Surat Perintah Penangkapan yang Menggantung
Puncak ketegangan terjadi ketika Perdana Menteri Irlandia, Simon Harris, menyatakan kesiapan negaranya untuk mengeksekusi surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Harris menegaskan, otoritas Irlandia akan menangkap PM Israel Benjamin Netanyahu jika ia datang ke wilayah mereka. Pernyataan ini merujuk pada keputusan ICC yang menjerat Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang.
Dengan latar belakang sedemikian rumit, jadwal pertandingan UEFA Nations League antara Irlandia dan Israel menjadi lebih dari sekadar agenda olahraga. Publik dan pengamat kini menunggu, apakah duel ini benar-benar akan terlaksana, atau justru menjadi momentum boikot yang mengukir sejarah baru dalam persinggungan antara sepak bola dan politik global.
Artikel Terkait
PSM Makassar Tumbang 0-2 dari Dewa United di Kandang Sendiri
Sergio Castel Undang Bobotoh Percayai Comeback Dramatis Persib di GBLA
Timnas Indonesia Jajaki Naturalisasi Striker Muda Luke Vickery
Paul Munster Hadapi Ujian Emosional Lawan Persebaya di Kandang Lamanya