“Kami sebenarnya menciptakan peluang, tiga kali. Tapi kondisi tim tidak ideal. Banyak pemain yang tidak bisa kami gunakan,” ujarnya.
“Sebagai pelatih, saya harus melihat detail. Berapa kali kita menang duel, berapa sentuhan di kotak penalti lawan, dan bagaimana eksekusi akhirnya. Itu yang penting,” tegas Trucha.
Ia juga dengan tegas membantah isu keretakan di ruang ganti. Menurutnya, masalah yang dihadapi murni bersifat teknis dan diperparah oleh musibah cedera.
Lalu, bagaimana dengan lawan? Secara valuasi, Dewa United memang lebih mewah dengan total nilai Rp110,81 miliar dan rata-rata nilai pemain yang lebih tinggi. Tapi statistik pertemuan tujuh laga terakhir justru menunjukkan pertarungan yang sengit: tiga kemenangan untuk PSM, dua imbang, dan dua kemenangan untuk Dewa.
Artinya, laga di GBH nanti bukan sekadar adu gengsi pasar. Ini adalah pertarungan mental dan karakter.
Tanpa Yuran, garis belakang PSM akan diuji ketahanannya. Duet Lagator dan Neto harus langsung kompak. Komunikasi, koordinasi, dan disiplin menjaga wilayah jadi kunci utama. Satu kesalahan koordinasi bisa berakibat fatal.
Memang, di sisi materi PSM mungkin kalah. Tapi soal rasa lapar dan keinginan untuk membuktikan diri, siapa tahu Pasukan Ramang justru punya lebih banyak. Itulah yang bisa jadi penyeimbang.
Jadi, Sabtu malam nanti kita akan dapat jawaban. Apakah duet baru di lini belakang PSM ini cuma eksperimen dadakan, atau justru jadi awal dari sebuah kebangkitan? Semua pertanyaan itu akan terjawab di lapangan.
Artikel Terkait
Pelatih Bulgaria Buka Peluang Kembali Berkarier di Indonesia
AS Roma Minat Rekrut Mohamed Salah, Syaratnya Potong Gaji Drastis
Herdman Soroti Tiga Pemain Kunci untuk Persiapan Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030
PSM Makassar Targetkan Lima Kemenangan Beruntun di April untuk Hindari Degradasi