Sabtu malam nanti, Stadion Gelora BJ Habibie bakal jadi saksi ujian berat untuk PSM Makassar. Mereka harus menghadapi Dewa United pada laga pekan ke-21 Super League tanpa sosok kunci: Yuran Fernandes. Kapten sekaligus benteng andalan itu absen di momen yang benar-benar krusial.
Pelatih Tomas Trucha jelas harus memutar otak. Opsi yang paling mungkin adalah memainkan duet baru di jantung pertahanan: Dusan Lagator, rekrutan anyar, dipasangkan dengan Aloisio Neto. Sebuah eksperimen yang risikonya tinggi.
Memang, Lagator dikenal sebagai gelandang bertahan. Tapi postur tubuhnya yang mencapai 190 cm dan kecerdasannya membaca permainan jadi alasan untuk mencoba menempatkannya lebih dalam. Di sisi lain, Neto diharapkan bisa memberikan keseimbangan dengan pengalaman dan ketenangan khas bek Brasil. Di atas kertas, ini kombinasi yang menarik. Tapi di lapangan hijau? Semuanya masih tanda tanya besar.
Kedatangan Lagator sendiri sempat membuat deretan nilai pasar skuad PSM melonjak. Menurut data Transfermarkt, valuasi tim kini menyentuh angka Rp102,55 miliar, naik dari sebelumnya yang berkisar Rp98 miliar. Bahkan, Lagator langsung memuncaki daftar sebagai aset termahal Pasukan Ramang dengan nilai Rp7,82 miliar, menggeser posisi Yuran.
Tapi kita semua tahu, angka-angka itu tidak akan mencetak gol. Angka juga tidak bisa mencegah kebobolan. Yang dibutuhkan adalah chemistry dan performa.
Tekanan terhadap tim dan pelatih sendiri sudah memuncak. PSM baru saja memutus mimpi buruk tujuh laga tanpa kemenangan lewat kemenangan 2-1 atas PSBS Biak. Namun, hasil imbang tanpa gol melawan Semen Padang sebelumnya masih menyisakan kepahitan. Kritik berdatangan soal crossing yang tidak efektif, penguasaan bola yang mudah lepas, dan penyelesaian akhir yang tumpul.
Kelompok suporter Red Gank bahkan sudah bersuara keras, mendesak evaluasi total. Kehilangan 19 poin dari tujuh laga itu, kata mereka, adalah alarm yang tidak boleh diabaikan.
Trucha mengaku paham dengan tekanan itu. Meski begitu, ia meminta semua pihak melihat konteks yang ada.
“Kami sebenarnya menciptakan peluang, tiga kali. Tapi kondisi tim tidak ideal. Banyak pemain yang tidak bisa kami gunakan,” ujarnya.
“Sebagai pelatih, saya harus melihat detail. Berapa kali kita menang duel, berapa sentuhan di kotak penalti lawan, dan bagaimana eksekusi akhirnya. Itu yang penting,” tegas Trucha.
Ia juga dengan tegas membantah isu keretakan di ruang ganti. Menurutnya, masalah yang dihadapi murni bersifat teknis dan diperparah oleh musibah cedera.
Lalu, bagaimana dengan lawan? Secara valuasi, Dewa United memang lebih mewah dengan total nilai Rp110,81 miliar dan rata-rata nilai pemain yang lebih tinggi. Tapi statistik pertemuan tujuh laga terakhir justru menunjukkan pertarungan yang sengit: tiga kemenangan untuk PSM, dua imbang, dan dua kemenangan untuk Dewa.
Artinya, laga di GBH nanti bukan sekadar adu gengsi pasar. Ini adalah pertarungan mental dan karakter.
Tanpa Yuran, garis belakang PSM akan diuji ketahanannya. Duet Lagator dan Neto harus langsung kompak. Komunikasi, koordinasi, dan disiplin menjaga wilayah jadi kunci utama. Satu kesalahan koordinasi bisa berakibat fatal.
Memang, di sisi materi PSM mungkin kalah. Tapi soal rasa lapar dan keinginan untuk membuktikan diri, siapa tahu Pasukan Ramang justru punya lebih banyak. Itulah yang bisa jadi penyeimbang.
Jadi, Sabtu malam nanti kita akan dapat jawaban. Apakah duet baru di lini belakang PSM ini cuma eksperimen dadakan, atau justru jadi awal dari sebuah kebangkitan? Semua pertanyaan itu akan terjawab di lapangan.
Artikel Terkait
Liga 4 Sulsel: Makassar City Hancurkan Persibone 21-0 di Tengah Drama Keterbatasan Pemain
Raymond/Joaquin Siap Sambut Debut dan Target Juara di All England 2026
Komdis PSSI Jatuhkan Denda ke Sejumlah Klub, Termasuk Persis Solo dan Borneo FC
Pelatih Persija Yakini Perburuan Gelar Masih Terbuka Meski Tertinggal 6 Poin dari Persib