Relawan Terpaksa Transit ke Malaysia Demi Bantuan ke Aceh, Tiket Domestik Dinilai Tak Masuk Akal

- Selasa, 23 Desember 2025 | 10:40 WIB
Relawan Terpaksa Transit ke Malaysia Demi Bantuan ke Aceh, Tiket Domestik Dinilai Tak Masuk Akal

Gimana ini, ya? Nyeberang ke negara orang malah lebih murah ketimbang terbang di dalam negeri sendiri. Bisa-bisanya tarif penerbangan lokal bikin geleng-geleng kepala. Mungkin orang di Bandara Kuala Lumpur aja cengar-cengir lihat harga tiket kita yang nggak masuk akal.

Nah, fenomena aneh ini bukan cuma jadi keluhan biasa. Marsha Chikita Fawzi, atau yang lebih dikenal sebagai Chiki Fawzi, baru-baru ini merasakannya langsung. Putri dari musisi Ikang Fawzi ini sedang turun tangan jadi relawan untuk korban banjir bandang di Aceh.

Tapi perjalanan baiknya itu justru menyoroti sebuah ironi yang cukup menyakitkan.

Daripada terbang langsung dari Jakarta ke Medan, Chiki memilih rute yang lebih panjang: lewat Malaysia dulu. Alasannya sederhana dan sangat pragmatis: biaya. Rute berputar itu jauh lebih murah, meski jelas lebih ribet.

"Mau ke Aceh Tengah, flight-nya lewat Malaysia karena harganya lebih masuk akal. Kalau flight langsung ke Medan bisa 8-9 juta. Kalau lewat Malaysia cuma sekitar 2 jutaan Jakarta-Malaysia 1,5 juta, terus Malaysia-Medan cuma 500 ribuan."

Dalam unggahannya di Threads, Senin (22/12/2025), dia mengakui tantangannya. Bawa barang-barang bantuan berukuran besar, seperti water purifier yang rencananya akan dipasang di Aceh, tentu lebih sulit dengan rute transit.

"Jadi kepikiran relawan yang gak punya passport. Semoga setelah Nataru ini, harga tiket lebih manusiawi ya," tambahnya.

Ucapannya itu, meski disampaikan santai, menyimpan kritik tajam. Di satu sisi, ada semangat membantu sesama yang begitu kuat. Di sisi lain, ada kenyataan infrastruktur transportasi kita yang justru membebani mereka yang ingin berbuat baik.

[Cuplikan unggahan Chiki Fawzi di Threads yang menunjukkan perbandingan harga tiket]

Cerita Chiki ini cuma satu contoh dari masalah yang sudah lama jadi gunung es. Banyak warga yang sebenarnya sudah mengeluhkan hal serupa, meski mungkin tak terdengar. Mereka yang harus bolak-balik antar pulau untuk urusan keluarga atau kerja, misalnya, sering terjepit dengan pilihan yang sama: bayar mahal atau cari cara lain yang lebih njlimet.

[Foto-foto dokumentasi perjalanan atau aktivitas relawan]

Memang, setelah lebaran atau tahun baru, biasanya ada harapan harga tiket akan melandai. Tapi pertanyaannya, kenapa harus menunggu momen tertentu dulu? Kenapa konektivitas antardaerah di dalam negeri sendiri harus jadi barang mewah?

Kisah perjalanan Chiki Fawzi ke Aceh ini, pada akhirnya, lebih dari sekadar laporan perjalanan seorang relawan. Ini adalah cermin dari sebuah persoalan klasik yang masih menunggu solusi yang benar-benar "masuk akal". Bukan hanya untuk para relawan, tapi untuk semua orang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar