Flick pun tak tinggal diam. Dia dengan sinis menyindir kinerja VAR dan kepemimpinan wasit yang dianggapnya amburadul. Baginya, segalanya sudah salah sejak awal. Kartu kuning yang tidak diberikan pada aksi pertama terhadap Balde, misalnya, dianggapnya sebagai titik balik.
“Tentu saja. Semuanya akan berbeda jika dia menunjukkannya. Dengan tidak melakukannya, Anda mengundang mereka untuk bermain seperti ini,” sindirnya.
Soal proses anulasi gol yang berlarut-larut, Flick jelas geram. “Ini kacau. Mereka harus menunggu tujuh menit, ayolah. Mereka menemukan sesuatu dalam tujuh menit itu? Oke. Ketika saya melihat situasi ini, jelas tidak offside. Mungkin mereka melihat sesuatu yang berbeda. Lalu beri tahu kami. Tidak ada komunikasi. Ini sangat buruk di sini.”
Namun begitu, di tengah kekecewaan yang mendalam, Flick menolak mencari kambing hitam. Dia tak mau menyalahkan para pemainnya yang sudah berjuang keras sepanjang musim yang penuh cedera ini.
“Saya tidak kecewa dengan tim. Saya senang dengan musim tim ini. Kami mengalami banyak cedera. Kekalahan juga bagian dari permainan,” katanya, mencoba bersikap realistis.
“Itu kekalahan yang menyakitkan, tetapi saya bangga dengan tim. Kami harus belajar dari pelajaran ini. Mereka lebih lapar untuk mencetak gol. Dan itu yang saya inginkan. Kami tidak melakukannya dalam 45 menit pertama. Tim ini masih muda, tetapi saya tidak mencari alasan.”
Kini, puing-puing kekalahan 0-4 itu harus segera dibenahi. Tekanan untuk leg kedua sudah menumpuk. Barcelona tak punya pilihan lain: menang besar atau tersingkir dengan rasa malu. Semua mata akan tertuju pada Camp Nou, menanti keajaiban yang hampir mustahil.
Artikel Terkait
Jay Idzes Soroti Energi dan Taktik Baru John Herdman di Debutnya dengan Timnas Indonesia
Pelatih Bulgaria Buka Peluang Kembali Berkarier di Indonesia
AS Roma Minat Rekrut Mohamed Salah, Syaratnya Potong Gaji Drastis
Herdman Soroti Tiga Pemain Kunci untuk Persiapan Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030