PSIS Datangkan 17 Pemain Baru di Tengah Posisi Terjepit Championship

- Jumat, 06 Februari 2026 | 21:30 WIB
PSIS Datangkan 17 Pemain Baru di Tengah Posisi Terjepit Championship

MURIANETWORK.COM - PSIS Semarang melakukan gebrakan luar biasa di bursa transfer paruh musim Championship 2025/2026 dengan mendatangkan 17 pemain baru. Langkah masif ini dilakukan saat tim terdampar di peringkat ke-9 Grup B, menimbulkan pertanyaan tentang strategi dan ambisi manajemen. Di tengah hiruk-pikuk perekrutan, klub justru kehilangan peluang untuk mendapatkan sejumlah target lokal yang secara teknis dinilai ideal, seperti Febri Hariyadi dan Rezaldi Hehanusa.

Strategi "All-In" di Tengah Posisi Terjepit

Tekanan untuk segera bangkit dari zona degradasi tampaknya mendorong manajemen PSIS untuk bertindak ekstrem. Mendatangkan 17 pemain dalam satu jendela transfer bukanlah hal yang lazim, bahkan untuk standar Championship. Langkah ini lebih menyerupai sebuah perjudian besar ketimbang sekadar penambahan kedalaman skuad. Tantangan terbesarnya bukan terletak pada kualitas individu pemain, melainkan pada bagaimana membangun chemistry dan koordinasi taktik dalam waktu yang sangat terbatas. Situasi ini semakin kompleks mengingat tim masih beroperasi tanpa pelatih kepala yang definitif.

Untuk mengatasi kekosongan kepelatihan, manajemen menunjuk Alfredo Vera sebagai Direktur Teknik. Keputusan ini dinilai sebagai manuver cerdas untuk tetap menjaga sentuhan taktik asing, mengakali regulasi yang membatasi peran pelatih asing di fase Championship. Namun, sistem secanggih apa pun tetap membutuhkan eksekutor di lapangan yang memahami visi permainan. Di sinilah sebenarnya target-target yang terlewat, seperti Febri dan Rezaldi, memiliki nilai strategis.

Dua Target Ideal yang Terlepas dari Genggaman

Febri Hariyadi, winger 29 tahun jebolan Persib Bandung, secara profil dinilai sangat cocok dengan kebutuhan PSIS. Meski bukan lagi pemain inti di klub lamanya, Febri menawarkan pengalaman, disiplin taktik, dan kecepatan transisi yang dibutuhkan dalam kerangka kerja Alfredo Vera. Sayangnya, momentum untuk mendapatkannya hilang.

“Persis Solo bergerak lebih cepat. Febri resmi dipinjam untuk sisa musim,” ujar seorang sumber yang dekat dengan proses transfer.

Nasib serupa menimpa upaya perekrutan Rezaldi Hehanusa. Bek sisi kiri dengan kemampuan overlap dan distribusi bola yang rapi itu dianggap sebagai profil bek modern yang ideal untuk sistem transisi cepat PSIS. Namun, lagi-lagi, ketangkasan negosiasi klub lain mengalahkan niat Mahesa Jenar.

Pelajaran dari Kasus Riyan Ardiansyah

Pola kehilangan target kembali terlihat dalam kasus Riyan Ardiansyah. Pemain yang secara teknis sangat fleksibel dan matang dengan lebih dari 120 penampilan itu adalah tipe pemain "siap pakai" yang sempurna. Namun, sekali lagi, timing menjadi penentu.

“Persebaya Surabaya datang di saat yang tepat. Manuver cepat pada deadline day membuat PSIS hanya bisa menyaksikan,” jelas sumber yang sama.

Kasus Riyan semakin menegaskan bahwa di bursa transfer, kecepatan dan ketepatan waktu seringkali lebih berharga daripada sekadar kecocokan profil pemain.

Ambisi Besar dan Ujian Chemistry

Dengan 17 wajah baru, kekuatan PSIS secara kuantitas memang bertambah signifikan. Ambisi manajemen untuk menyelamatkan musim juga terlihat jelas dan tidak setengah-setengah. Namun, kegagalan mendapatkan target-target kunci yang presisi mengungkap sebuah kelemahan dalam strategi: masif belum tentu efektif.

Fase Championship yang padat dan penuh tekanan ibarat sebuah final beruntun setiap pekannya. Jika puluhan pemain baru ini gagal menyatu dengan cepat, membangun pemahaman taktik, dan membentuk ikatan di lapangan, maka tumpukan nama tersebut hanya akan menjadi angka statistik yang tidak bermakna. PSIS telah memilih jalan yang berani dan penuh risiko. Hasilnya akan menjawab pertanyaan mendasar: apakah langkah besar ini merupakan awal kebangkitan, atau justru pelajaran mahal bahwa dalam transfer, presisi dan kecepatan adalah segalanya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar