MAKASSAR Ada sebuah pola yang selalu berulang di PSM Makassar. Pemain yang sebelumnya tampak biasa-biasa saja, tiba-tiba menjelma jadi monster begitu mengenakan kostum merah marun. Atmosfer Stadion Mattoanging, dengan tekanan dan fanatisme pendukungnya, memang punya cara sendiri untuk mengubah jalan karier seseorang.
Ambil contoh Oscar Aravena dan Osvaldo Moreno. Dua nama itu dulu datang tanpa embel-embel bintang besar. Tapi di Makassar, mereka berubah total. Jadi mesin gol, jadi ikon.
Nah, sekarang, pola lama itu sepertinya ingin terulang lagi. Kali ini, sosoknya adalah Gervane Kastaneer.
Rumor yang Sudah di Ambang Pintu
Bursa transfer putaran kedua Super League 2025/2026 sedang panas. Kabar terbaru, PSM dikabarkan sudah menyelesaikan negosiasi dengan penyerang Persis Solo itu. Isu ini kian kuat setelah sejumlah akun media sosial sepak bola, termasuk @gosball, ikut memberitakannya.
Kalau benar terjadi, ini bakal jadi rekrutan penting. Bukan cuma soal kualitasnya, tapi Kastaneer itu tipenya cocok banget dengan karakter PSM: fisik kuat, agresif, dan mobilitasnya tinggi. Dia bisa diandalkan di beberapa posisi.
Kenangan Pahit di Manahan
Nama Kastaneer sebenarnya sudah dikenal penggemar PSM. Ingat pertandingan sengit 29 November 2025 di Stadion Manahan? Saat itu Persis Solo kalah 3-4 dari Juku Eja. Tapi, di tengah kekalahan timnya, Kastaneer malah mencetak dua gol.
Pertandingan itu jadi semacam alarm. Striker asal Curaçao ini ternyata sulit sekali dijinakkan. Pergerakannya cerdas, fisiknya kokoh, dan finishing-nya dingin. Dia bukan sekadar target man statis, tapi striker modern yang bisa bikin kacau pertahanan lawan.
Statistik musim ini di Persis Solo? 13 pertandingan, 4 gol, 2 assist. Angkanya mungkin tak terlalu mencolok. Tapi, lihat konteksnya: dia bermain di tim yang sedang tak stabil. Performa pemain seringkali terpengaruh situasi seperti itu.
Dan inilah yang menarik: justru pemain dengan profil seperti Kastaneer yang punya potensi meledak di PSM. Sejarah sudah membuktikannya berkali-kali.
Polanya Selalu Sama: Dari Bahan Mentah Jadi Bintang
PSM itu punya keahlian khusus. Mereka bukan klub yang gemar membeli bintang jadi. Mereka adalah pabrik yang membentuk bintang-bintang itu sendiri.
Lihat saja polanya. Datang tanpa label superstar, masuk ke dalam sistem yang jelas, lalu digodok di bawah tekanan suporter paling fanatik di Indonesia. Mental terbentuk, performa pun meledak. Aravena dan Moreno adalah bukti nyata.
Gervane Kastaneer, secara profil, masuk sempurna ke dalam pola lama ini.
Cocok dengan Gaya Trucha
Pelatih Tomas Trucha dikenal sebagai arsitek yang membangun tim berdasarkan fungsi, bukan sekadar nama besar. Nah, Kastaneer ini seperti alat serbaguna buatnya.
Artikel Terkait
Kelme Resmi Ambil Alih, Timnas Indonesia Berbalut Apparel Spanyol
Persebaya Siap Tancap Gas, PSIM Berbenah di Tengah Badai Cedera
Duel Panas di Istora: Senior Tumbang oleh Junior yang Tak Gentar
Julián Álvarez Ingin Cabut dari Madrid, Barcelona dan PSG Siap Sambut