Sukses di lapangan hijau tak selalu berarti semuanya berjalan mulus di baliknya. Itulah yang coba diungkap Diego Costa soal Antonio Conte. Ya, duo yang dulu sukses membawa Chelsea juara Premier League 2016/2017 itu rupanya punya cerita lain. Atmosfer di ruang ganti, kata Costa, jauh dari kata kondusif.
Secara statistik, kolaborasi mereka waktu itu gemilang. Costa sendiri mencetak 20 gol plus 7 assist. Tapi angka-angka mentereng itu ternyata menutupi persoalan yang meruncing di belakang layar. Hubungan personal antara sang target man dan pelatihnya disebut-sebut bermasalah sejak lama.
Perselisihan itu akhirnya memuncak. Berujung pada kepergian Costa dari Stamford Bridge.
Dalam sebuah obrolan dengan John Obi Mikel, Costa tak sungkan melontarkan kritik pedas. Ia menggambarkan Conte sebagai sosok yang merasa paling benar sendiri. Karakternya, menurut Costa, sulit mempercayai orang lain.
"Dia itu orang yang tidak mempercayai orang lain. Dia mengira bahwa dia itu tahu semuanya,"
begitu kata Costa, seperti yang dilansir Metro.
Menurut penyerang berdarah Brasil-Spanyol itu, suasana latihan di bawah Conte sama sekali tidak menyenangkan. Ekspresi sang pelatih yang seringkali marah dan muram konon langsung memengaruhi psikologi skuad. Costa bilang, Conte hampir selalu terlihat kesal. Sikap itulah yang akhirnya menciptakan jarak dengan anak asuhnya, membuatnya kurang disukai di ruang ganti.
Dampaknya nyata bagi karier Costa. Ia sempat diasingkan, tidak dimainkan sama sekali di paruh awal musim berikutnya. Nasibnya berakhir dengan kepulangan ke Atletico Madrid di bursa transfer Januari.
Di sisi lain, Conte tetap bisa mengakhiri musim 2017/2018 dengan membawa Piala FA. Tapi pencapaian di liga biasa saja, cuma peringkat lima. Hasil itulah yang kemudian membuat manajemen Chelsea memutuskan untuk memberhentikannya.
Kini, Costa sedang dalam masa pencarian. Kontraknya dengan Gremio baru saja berakhir awal bulan ini di usianya yang ke-37. Kabarnya, striker garang ini membuka peluang untuk kembali bermain di Spanyol. Konon sudah ada komunikasi dengan mantan klubnya, Atletico Madrid, dan juga Real Valladolid.
Sementara Conte terus melangkah di karier kepelatihan elite Eropa. Setelah melalui petualangan di Inter Milan dan Tottenham Hotspur, pria asal Italia itu sekarang memegang kendali penuh Napoli sejak musim lalu.
Pengakuan Costa ini sekali lagi mengingatkan kita. Di dunia sepak bola profesional, gelar dan piala yang berkilau kerap menyimpan dinamika hubungan yang rumit. Keharmonisan di balik layar tak selalu mengikuti kesuksesan di atas rumput hijau.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Kembali Kalahkan Brian Uriarte di Moto3 Spanyol, Kokoh di Puncak Klasemen Debutan
PSM Makassar Andalkan Empat Bek Asing dan Victor Dethan untuk Curi Poin dari Bali United
PBVSI Panggil 17 Pemain Timnas Voli Putri, Megawati Hangestri Tetap Diandalkan Meski Cedera
Kiandra Ramadhipa Bangkit dari Posisi 17, Kebut ke Peringkat Kedua Klasemen Red Bull MotoGP Rookies Cup 2026