Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan ambisinya untuk mengambil alih pusat infrastruktur minyak Iran yang terletak di Pulau Kharg. Namun, di balik pernyataan tegas itu, ia mengakui keraguan apakah negaranya memiliki keberanian untuk merealisasikan langkah tersebut. "Pilihan saya selalu ambil alih Pulau Kharg. Pilihan saya adalah itu. Saya tidak tahu apakah Amerika memiliki keberanian untuk itu," ujarnya dalam sebuah wawancara dengan Fox News, seperti dikutip Reuters pada Kamis (11/6/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Selama periode itu, Iran secara efektif masih menutup Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi pasokan minyak dan gas global. Langkah Iran ini telah memicu kekhawatiran luas akan stabilitas energi dunia.
Sementara itu, ketegangan antara kedua negara kembali memuncak dengan saling melancarkan serangan udara. Trump bahkan mengancam akan meningkatkan intensitas serangan terhadap Iran. "Akan ada lebih banyak pemboman malam ini. Akan lebih besar lebih besar, lebih kuat," katanya dalam program 'Fox & Friends'.
Di sisi lain, meskipun agresi militer terus digencarkan, Trump mengklaim bahwa Amerika Serikat masih membuka jalur dialog dengan Iran untuk mencapai kesepakatan. Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi terkait status gencatan senjata yang sebelumnya disepakati pada bulan April, sehingga menimbulkan tanda tanya besar mengenai kelanjutan perundingan damai di tengah hiruk-pikuk serangan.
Artikel Terkait
Erick Thohir Ajak John Herdman Pantau Langsung Timnas U-19 Lawan Australia di Medan
Polisi Imbau Pengendara Hindari Bundaran HI saat Aksi BEM UI Jumat Besok
360 Jemaah Haji Kloter 06 Debarkasi Banjarmasin Asal Kalteng Tiba di Tanah Air
BEM UI Minta Maaf soal Potensi Kemacetan Aksi di Bundaran HI, Bawa Tuntutan Turunkan Harga BBM dan Hentikan Program Makan Bergizi Gratis