Yang menarik, latihan kelompok pertamanya pasca-cedera justru bukan bersama klub. Dia langsung bergabung dengan skuat Garuda di Arab Saudi. "Latihan kelompok pertama setelah cedera saya adalah di Arab Saudi bersama tim nasional, tepat sebelum kualifikasi Piala Dunia," ungkapnya. Situasi yang cukup unik, tentu saja.
Dia akhirnya turun juga. Melawan Arab Saudi, Ole masuk di menit ke-64. Lalu, saat berhadapan dengan Irak, dia bermulai dari menit ke-56. Tapi jangan bayangkan dia sudah pulih betul. Kondisinya masih jauh dari kata ideal.
Lalu, bagaimana bisa tampil? Ole mengaku, semua berkat dorongan dari dalam. "Saya memainkan pertandingan internasional itu terutama dengan hati. Dengan perasaan, dengan adrenalin," ujarnya. Semangat dan loyalitasnya yang berbicara, lebih dari sekadar kesiapan fisik.
Sayangnya, pengorbanannya itu belum cukup membawa hasil. Indonesia takluk 2-3 dari Arab Saudi, lalu kalah tipis 0-1 dari Irak. Dua kekalahan itu akhirnya menghentikan langkah Garuda di kualifikasi.
Meski perjalanan berakhir, pengorbanan Ole Romeny tetap layak dicatat. Sebuah bukti bahwa di lapangan hijau, terkadang hati dan jiwa seorang pemain bisa mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Itu mungkin tidak membawa kemenangan, tapi jelas menunjukkan komitmen yang tak setengah-setengah.
Artikel Terkait
Marc Marquez Tenang Hadapi Awal Musim 2026 Tanpa Podium
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Brunei di Piala AFF 2026 dengan Skuad Baru dan Target Realistis
Pengamat Soroti Pendekatan Herdman sebagai Pembeda di Timnas Indonesia
Ducati Krisis Awal Musim: Bagnaia Soroti Masalah Teknis, Marquez Introspeksi Diri