OXFORD – Niatnya bulat. Meski kondisi fisiknya belum seratus persen fit, Ole Romeny memaksakan diri untuk membela Timnas Indonesia di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Padahal, cedera serius yang dialaminya belum sepenuhnya pulih.
Semua berawal dari sebuah insiden di Bandung. Tanggal 10 Juli 2025, Oxford United menghadapi Arema FC di Stadion Si Jalak Harupat. Pertandingan itu dimenangkan Oxford dengan skor telak 4-0, tapi bagi Ole, laga itu justru berakhir pahit. Dia mendapat tekel keras dari pemain Arema, Paulinho, yang memaksanya keluar lapangan lebih awal.
Diagnosanya parah: patah tulang metatarsal, tulang yang menghubungkan pergelangan kaki dengan jari-jari kaki. Operasi pun tak terhindarkan. "Saya mengalami patah kaki di Indonesia setelah tendangan yang sangat menyakitkan,"
kata Ole dalam sebuah wawancara.
Rehabilitasnya berlangsung lama. Dia absen dari banyak laga bersama Oxford United. Namun di tengah proses pemulihan yang berjalan alot, justru datang panggilan dari timnas. Pelatih memproyeksikannya untuk dua laga krusial melawan Arab Saudi dan Irak pada Oktober 2025.
Yang menarik, latihan kelompok pertamanya pasca-cedera justru bukan bersama klub. Dia langsung bergabung dengan skuat Garuda di Arab Saudi. "Latihan kelompok pertama setelah cedera saya adalah di Arab Saudi bersama tim nasional, tepat sebelum kualifikasi Piala Dunia," ungkapnya. Situasi yang cukup unik, tentu saja.
Dia akhirnya turun juga. Melawan Arab Saudi, Ole masuk di menit ke-64. Lalu, saat berhadapan dengan Irak, dia bermulai dari menit ke-56. Tapi jangan bayangkan dia sudah pulih betul. Kondisinya masih jauh dari kata ideal.
Lalu, bagaimana bisa tampil? Ole mengaku, semua berkat dorongan dari dalam. "Saya memainkan pertandingan internasional itu terutama dengan hati. Dengan perasaan, dengan adrenalin," ujarnya. Semangat dan loyalitasnya yang berbicara, lebih dari sekadar kesiapan fisik.
Sayangnya, pengorbanannya itu belum cukup membawa hasil. Indonesia takluk 2-3 dari Arab Saudi, lalu kalah tipis 0-1 dari Irak. Dua kekalahan itu akhirnya menghentikan langkah Garuda di kualifikasi.
Meski perjalanan berakhir, pengorbanan Ole Romeny tetap layak dicatat. Sebuah bukti bahwa di lapangan hijau, terkadang hati dan jiwa seorang pemain bisa mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Itu mungkin tidak membawa kemenangan, tapi jelas menunjukkan komitmen yang tak setengah-setengah.
Artikel Terkait
PSM Makassar Tumbang di Kandang Sendiri Usai Dibungkam Dewa United 2-0
PSM Makassar Tumbang di Kandang, Konsistensi dan Pertahanan Jadi Masalah
PSM Makassar Tumbang 0-2 dari Dewa United di Kandang Sendiri
Sergio Castel Undang Bobotoh Percayai Comeback Dramatis Persib di GBLA