John Herdman dan Bayangan Kelam Pelatih Inggris di Timnas Indonesia

- Minggu, 21 Desember 2025 | 09:30 WIB
John Herdman dan Bayangan Kelam Pelatih Inggris di Timnas Indonesia

JAKARTA – Nama John Herdman akhirnya resmi disebut sebagai pelatih baru Timnas Indonesia. Keputusan ini, yang diambil secara bulat oleh Exco PSSI dalam rapat Kamis lalu, langsung memantik perbincangan hangat di kalangan pecinta sepak bola. Bukan cuma soal strategi atau visinya, tapi ada satu hal yang bikin banyak orang geleng-geleng kepala: latar belakang kebangsaannya.

Ya, Herdman berasal dari Inggris, atau lebih luasnya, Britania Raya. Dan kalau kita tilik ke belakang, jejak pelatih dari kawasan itu di tim Garuda ternyata tak terlalu bersinar. Malah, bisa dibilang suram.

Anggota Exco PSSI, Ahmad Riyadh, sudah mengonfirmasi keputusan ini.

“Betul, Exco PSSI semua sudah sepakat John Herdman jadi pelatih Timnas Indonesia,” ujarnya lewat pesan singkat.

Nah, kesepakatan itu kini dibayangi oleh memori akan dua nama sebelumnya.

Peter Withe: Awal Janji, Akhir Pilu

Nama pertama yang langsung terngiang adalah Peter Withe. Pelatih asal Inggris ini memegang kendali timnas mulai Januari 2004. Saat ia datang, Indonesia sedang di peringkat 91 dunia. Bukan posisi yang bagus, tapi juga bukan yang terburuk.

Sayangnya, perjalanan tiga tahun berikutnya justru membawa tim ke titik nadir. Di bawah Withe, Indonesia gagal total. Mereka tersingkir di babak kedua Kualifikasi Piala Dunia 2006, tak juara di Piala AFF 2004, dan yang paling menyakitkan: gagal melaju dari fase grup Piala AFF 2007. Itu adalah kali pertama dalam sejarah tim kita mengalami hal memalukan itu.

Dampaknya pada peringkat FIFA pun luar biasa buruk. Dari posisi 91, Indonesia merosot bebas ke angka 149 dalam rentang kepelatihannya. Padahal, sebelumnya, tim ini sempat stabil di top 100 dan bahkan mencapai ranking terbaiknya, 76, di tahun 1998. Rentetan kegagalan itu berujung pada pemecatan Withe di awal 2007.

Simon McMenemy: Janji yang Tak Kesampaian

Lompat beberapa tahun kemudian, datanglah Simon McMenemy. Ia mengambil alih pada Januari 2019. Awalnya sih, ada secercah harapan. Kemenangan 2-0 atas Myanmar di Maret 2019 sempat bikin optimisme mekar.

Tapi, seperti kata pepatah, langit tak selalu cerah. Performa tim langsung ambruk ketika memasuki Kualifikasi Piala Dunia 2022. Hasilnya? Sungguh memilukan. Empat pertandingan, empat kekalahan. Tiga di antaranya terjadi di kandang sendiri, GBK, saat berhadapan dengan Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Suasana stadion yang dulu diharapkan menjadi benteng, justru menjadi saksi bisu kekalahan beruntun.

Secara total, catatan McMenemy sangat tidak menggembirakan: dari tujuh laga, cuma dua yang dimenangi. Tim kebobolan 18 gol, sementara hanya mencetak 12. Rekor yang jelas-jelas tak bisa dipertahankan.

Kini, dengan latar belakang kelam itu, semua mata tertuju pada John Herdman. Ekspektasi publik tentu saja membumbung tinggi. Pertanyaan besarnya: bisakah pria asal Inggris ini memutus rantai kegagalan dan membawa angin segar? Atau jangan-jangan, sejarah hanya akan berulang?

Jawabannya, tentu saja, hanya waktu yang bisa memberi tahu. Tapi satu hal yang pasti, tugas Herdman tidak akan mudah. Ia bukan cuma harus mengolah taktik dan mental pemain, tapi juga mengusir hantu dari masa lalu yang sepertinya enggan pergi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar