Pendamping hukum masyarakat Suku Anak Dalam, Wahida Baharuddin Upa, menyampaikan kecurigaannya bahwa kelompoknya menjadi korban penipuan dalam kasus penculikan balita berinisial Bilqis yang berusia 4 tahun. Wahida menduga kuat bahwa pihak yang berniat mengadopsi anak tersebut mungkin memiliki keinginan untuk memiliki anak namun tidak menyadari bahwa Bilqis adalah korban dari sebuah tindak penculikan.
Wahida mengungkapkan analisisnya usai melakukan pertemuan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta Pusat. "Ini menyerupai pola sindikat, sebenarnya. Namun, yang cukup disayangkan adalah posisi pihak yang ingin mengadopsi. Saya yakin niat dasarnya adalah keinginan untuk memiliki anak. Mereka mungkin mengira bahwa proses yang dilakukan sudah memenuhi prosedur hukum yang berlaku. Padahal, pihak yang seharusnya menerima hukuman utama adalah pelaku pertama yang melakukan penculikan," jelasnya.
Wahida Baharuddin Upa secara tegas menyatakan harapannya agar pelaku utama penculikan Bilqis mendapatkan hukuman yang setimpal. Ia menekankan bahwa kasus ini tidak hanya tentang satu kejadian kriminal, tetapi lebih jauh menyangkut nasib dan hak-hak dasar seorang anak yang harus dilindungi.
"Hukuman yang diberikan seharusnya lebih berat, mengingat tindakan ini telah menghilangkan hak seorang anak hanya untuk tujuan adopsi. Seorang anak diculik dan kemudian dengan mudahnya diadopsi oleh pihak lain," tegas Wahida dalam pernyataannya.
Berdasarkan informasi yang diterima dari anggota Suku Anak Dalam, Wahida menyebutkan bahwa Bilqis awalnya dititipkan kepada mereka. Namun, hingga saat ini, belum ada kejelasan mengenai identitas dan asal-usul pihak yang mengadopsi, apakah berasal dari kalangan Suku Anak Dalam sendiri atau dari luar komunitas mereka.
"Informasi awal yang kami terima, anak ini ditemukan dalam keadaan dititipkan di lingkungan Suku Anak Dalam. Namun, kami belum mendapatkan konfirmasi pasti dari kepolisian mengenai status sebenarnya dari pihak yang mengadopsi. Sejauh pengetahuan saya, masyarakat Suku Anak Dalam umumnya memiliki banyak anak. Jarang sekali ditemukan yang hanya memiliki sedikit anak," pungkas Wahida mengakhiri penjelasannya.
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Seluruh Wilayah Jakarta Hari Ini
Kemendikbud Dorong Lowongan Guru Pensiun Diisi CPNS, Bukan PPPK
Roma Hajar Cremonese 3-0, Melonjak ke Posisi Tiga Klasemen
LPDP Sayangkan Pernyataan Kontroversial Alumni Soal Kewarganegaraan Anak di Media Sosial