Atap SMKN 1 Gunung Putri Ambruk: 44 Siswa Luka-luka, 5 Masih Dirawat

- Senin, 03 November 2025 | 21:00 WIB
Atap SMKN 1 Gunung Putri Ambruk: 44 Siswa Luka-luka, 5 Masih Dirawat
Atap SMKN 1 Gunung Putri Ambruk, 44 Siswa Tertimpa dan Luka-luka | Update Korban

Atap SMKN 1 Gunung Putri Ambruk, 44 Siswa Tertimpa dan Luka-luka

Atap gedung SMKN 1 Gunung Putri di Bogor, Jawa Barat, dilaporkan ambruk pada Senin (3/11/2025) sore. Kejadian ini terjadi saat hujan deras melanda kawasan tersebut dan mengakibatkan puluhan siswa mengalami luka-luka setelah tertimpa material bangunan yang runtuh.

Korban dan Proses Evakuasi

Sebanyak 44 siswa menjadi korban dalam insiden atap ambruk ini. Mereka mengalami berbagai luka, mulai dari memar hingga patah tulang. Proses evakuasi segera dilakukan untuk memindahkan korban ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat.

Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, korban dibagi ke beberapa lokasi perawatan. Berikut adalah rincian distribusi korban:

  • 20 orang dengan luka ringan dievakuasi ke Puskesmas setempat.
  • 3 orang dirujuk ke RSUD Cileungsi.
  • 17 orang mendapatkan perawatan di RS Graha Kenari.
  • 2 orang ditangani di RS Hermina.

Update Kondisi Korban Terkini

Hingga laporan ini diterbitkan, kondisi para korban terus dipantau. Yudi Santosa memberikan update terbaru bahwa jumlah korban yang masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit telah berkurang.

"Saat ini, total korban yang masih dirawat tersisa 5 orang. Rinciannya adalah 1 orang di RS Hermina, 3 orang di RSUD Cileungsi, dan 1 orang di RS Graha Kenari. Sementara itu, korban dengan luka ringan yang dirawat di puskesmas dan rumah sakit lainnya telah dipulangkan," jelas Yudi.

Kronologi Kejadian Atap Ambruk

Insiden ini terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Heri Sadewo, Kepala Desa Wanaherang, mengonfirmasi bahwa ada tiga ruang kelas yang atapnya ambruk. Saat kejadian, hujan sedang turun dengan sangat deras.

"Dari tiga kelas yang ambruk, satu kelas dalam kondisi kosong karena sedang digunakan untuk kegiatan pemeriksaan kesehatan. Hanya dua kelas yang sedang digunakan untuk proses belajar mengajar saat atap tersebut runtuh," ujar Heri, menggambarkan situasi yang beruntung karena tidak semua kelas terisi penuh.

Insiden atap ambruk di sekolah ini menyoroti pentingnya pemeliharaan infrastruktur pendidikan. Investigasi lebih lanjut diperkirakan akan dilakukan untuk menentukan penyebab pasti runtuhnya atap tersebut.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar