Peran I Gusti Ketut Pudja dan Teladan Kebhinekaan Menuju Indonesia Emas 2045
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (HNW), menegaskan bahwa bangsa Indonesia telah lama hidup dalam keberagaman dan kemajemukan. Nilai-nilai kebhinekaan ini telah menjadi fondasi sejak persiapan kemerdekaan Indonesia, tercermin dalam keanggotaan lembaga-lembaga penting seperti BPUPKI, Panitia Sembilan, dan PPKI.
Kebhinekaan sebagai Pemersatu Bangsa
Menurut HNW, keberagaman bukanlah alat untuk perpecahan, perdebatan, atau konflik. Sebaliknya, kemajemukan justru digunakan untuk menciptakan harmoni, toleransi, serta solusi yang menyatukan melalui semangat Bhinneka Tunggal Ika. Prinsip inilah yang menjadi kunci kesepakatan para pendiri bangsa dalam merumuskan dasar negara.
I Gusti Ketut Pudja: Tokoh Bali dalam Sejarah Kemerdekaan
Salah satu tokoh kunci yang sering terlupakan adalah I Gusti Ketut Pudja, anggota PPKI asal Provinsi Bali. Putra Bali pertama yang meraih gelar Meester in de Rechten (sarjana hukum) ini turut serta dalam:
- Menyepakati Pancasila versi final tanggal 18 Agustus 1945
- Penyusunan Undang-Undang Dasar 1945
- Kehadiran dalam pembacaan Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945
Atas kontribusinya, I Gusti Ketut Pudja dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden SBY pada tahun 2011.
Warisan Nilai Kebangsaan untuk Generasi Masa Depan
HNW menyampaikan hal ini dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang bekerja sama dengan DPW PKS Provinsi Bali. Ia menekankan bahwa partai politik di Bali, termasuk PKS Bali, harus melanjutkan peran sejarah para pendiri bangsa dengan menghilangkan sekat-sekat perbedaan.
Keberagaman latar belakang para pendiri bangsa - dari pendidikan umum hingga pesantren, dalam dan luar negeri, berbagai partai politik dan organisasi masyarakat - justru menghasilkan solusi terbaik bagi dasar negara dan konstitusi Indonesia.
Menuju Indonesia Emas 2045 dengan Empat Pilar
HNW menegaskan bahwa tantangan sejarah saat ini adalah melanjutkan warisan empat pilar MPR RI: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai ini menjadi kunci sukses menuju Indonesia Emas 2045, dimana generasi muda diharapkan dapat menjadi solusi dan meneruskan keteladanan kenegarawanan para pendiri bangsa.
Keunikan Indonesia dalam memiliki lembaga negara yang mensosialisasikan nilai-nilai kehidupan berbangsa juga mendapat apresiasi internasional, termasuk dari PBB di Jenewa. Melalui sosialisasi ini, rakyat Indonesia tidak hanya memahami proses demokrasi, tetapi juga tujuan besar negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.
Artikel Terkait
Banjir di Serang Belum Surut, 149 Warga Terus Mengungsi Hampir Sebulan
KPK Amankan Rp1 Miliar Lebih dalam OTT di Kantor Pajak Banjarmasin
Polisi Selidiki Cacahan Diduga Uang Rupiah di TPS Liar Bekasi
BRIN Hadirkan Peraih Nobel Kimia 2025 untuk Motivasi Peneliti Muda Indonesia