Politikus Republik Desak DOJ Selidiki Kewarganegaraan Zohran Mamdani, Calon Wali Kota New York
Pemilihan Wali Kota New York memanas setelah dua politikus Partai Republik, Randy Fine dan Andy Ogles, mendesak Departemen Kehakiman AS (DOJ) untuk menyelidiki status kewarganegaraan Zohran Mamdani. Mamdani adalah calon Wali Kota New York dari Partai Demokrat yang berpotensi menjadi pemimpin Muslim pertama di kota tersebut.
Desakan Investigasi dan Tuduhan terhadap Zohran Mamdani
Randy Fine, dalam pernyataannya kepada New York Post, menyatakan bahwa pemeriksaan mendalam terhadap proses naturalisasi Mamdani diperlukan. Fine mengklaim, "Jika ada penipuan atau pelanggaran aturan, kita perlu mendenaturalisasi dan mendeportasi mereka." Dia juga menyuarakan kekhawatiran tentang "musuh di dalam diri kita" yang datang untuk menghancurkan negara.
Andy Ogles bahkan telah mendesak investigasi sejak Juni, menyerukan deportasi terhadap Mamdani. Ogles menuduh organisasi tempat Mamdani bergabung, Sosialis Demokrat Amerika (DSA), sebagai organisasi komunis, yang semakin memanaskan situasi politik.
Respons Tegas Zohran Mamdani terhadap Tuduhan
Zohran Mamdani membalas tuduhan tersebut dengan kritik pedas terhadap Partai Republik. Dia menyoroti bahwa di saat rakyat Amerika memikirkan kebutuhan dasar seperti perawatan kesehatan dan biaya hidup, fokus Partai Republik justru pada upaya mendenaturalisasi seorang Muslim yang memenangkan pemilihan pendahuluan.
"Hal ini menunjukkan bahwa bagi Partai Republik, satu-satunya agenda yang mereka tawarkan adalah kekejaman dan hukuman," tegas Mamdani. Dia menegaskan bahwa isu ini mencerminkan masalah Islamofobia yang lebih dalam dalam politik AS.
Islamofobia dan Dinamika Pemilihan Wali Kota NYC
Mamdani juga menyoroti rivalnya, Andrew Cuomo, yang didukung Trump. Cuomo disebut membuat pernyataan kontroversial dengan menuduh Mamdani mendukung serangan teroris 9/11. Mamdani menilai tuduhan ini sebagai cerminan Islamofobia yang endemik dan ketidakmampuan sebagian pihak untuk menerima Muslim sebagai bagian integral dari New York.
Dengan pemilihan yang akan digelar pada 4 November, isu kewarganegaraan dan agama ini diperkirakan akan menjadi faktor penentu bagi para pemilih di New York City.
Artikel Terkait
Dua Petinggi Sritex Divonis 14 dan 12 Tahun Penjara atas Korupsi Kredit Rp1,35 Triliun
Polisi Serahkan Empat Tersangka SMS Phishing E-Tilang Palsu ke Kejaksaan
Pemprov DKI Jakarta Prioritaskan Penataan 211 RW Kumuh di Jakarta Barat dan Jakarta Utara pada 2026
Pemilahan Sampah di Jakarta Resmi Dimulai 10 Mei, Digandengkan dengan CFD Rasuna Said