Letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 tidak hanya menjadi salah satu bencana vulkanik terbesar abad ke-20, tetapi juga meninggalkan jejak global yang unik: menurunkan suhu rata-rata Bumi selama dua tahun berturut-turut. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bagaimana kekuatan alam dapat memengaruhi iklim planet dalam skala besar.
Berdasarkan catatan US Geological Survey (USGS) dan NASA, puncak erupsi terjadi pada 15 Juni 1991. Gunung yang sebelumnya tidak aktif ini memuntahkan sekitar 5 kilometer kubik magma dan melontarkan kolom abu setinggi 40 kilometer hingga menembus stratosfer. Material vulkanik yang disemburkan mencapai 15 hingga 20 juta ton sulfur dioksida, yang kemudian bereaksi dengan uap air membentuk aerosol asam sulfat di atmosfer.
Aerosol tersebut menyebar ke seluruh dunia dalam waktu tiga minggu hingga satu tahun, membentuk lapisan yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa. Akibatnya, suhu permukaan Bumi turun 0,5 hingga 0,6 derajat Celsius sepanjang 1992-1993. Menariknya, efek pendinginan ini lebih kuat daripada pemanasan akibat gas rumah kaca pada periode yang sama. Sementara itu, stratosfer justru mengalami pemanasan 2 hingga 3 derajat Celsius karena aerosol menyerap radiasi matahari.
Dampak iklim ini tidak berhenti pada perubahan suhu. Anomali atmosfer yang dipicu letusan memicu pola cuaca ekstrem di berbagai kawasan. Amerika Serikat mengalami musim panas yang lebih dingin dan basah, memicu banjir besar di Sungai Mississippi pada 1993. Di Afrika, wilayah Sahel justru dilanda kekeringan parah. Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya keseimbangan iklim Bumi terhadap gangguan besar dari dalam bumi.
Artikel Terkait
Myanmar Hajar Filipina 4-1 di Kandang, Asian Lions Naik ke Peringkat Kedua Grup B Piala AFF 2026
Bom Rakitan Meledak di Dekat Kementerian Kehakiman Filipina, Benda Mencurigakan Ditemukan di Gedung Senat
Filipina dan Sengketa Maritim di Asia Tenggara: Sejarah, Kepentingan, dan Politik Domestik
Filipina Protes Keras ke China atas Bentrokan di Laut China Selatan