Sebuah peta Afrika yang ditampilkan Departemen Luar Negeri AS dalam konferensi AIDS global di Rio de Janeiro pekan ini memicu kehebohan karena salah memberi label pada setiap negara di benua tersebut. Peta yang disisipkan dalam slide presentasi tentang perjanjian kesehatan baru itu bahkan memuat tanda air yang menunjukkan kontennya dibuat dengan bantuan perangkat kecerdasan buatan milik OpenAI.
Dalam slide yang ditampilkan, Nigeria negara yang saat ini menjadi tempat penempatan beberapa ratus tentara AS digambarkan sebagai negara terkurung daratan di Gurun Sahara. Mozambik yang sebenarnya berada di Afrika tenggara ditempatkan di Tanduk Afrika, sementara Pantai Gading yang berada di Afrika Barat diletakkan di sisi lain benua.
Tangkapan layar peta tersebut pertama kali diunggah oleh pakar HIV dan AIDS, Emily Bass, melalui platform Substack, lalu menyebar luas di LinkedIn. Salah satu unggahan yang membagikannya mendapat sekitar 40.000 tampilan.
Matt Petit, peneliti geopolitik di Atlantic Council, mengomentari unggahan Emily Bass dengan nada kritis. "Siapa pun yang membuat dan menyetujui slide ini, mereka tidak tahu di mana letak negara-negara di Afrika dan tidak peduli untuk memeriksa pekerjaan mereka," tulisnya.
Laporan Reuters menyebutkan gambar peta itu menyertakan watermark yang menandai konten dibuat dengan bantuan tools kecerdasan buatan milik OpenAI. OpenAI mengatakan sedang menyelidiki laporan tersebut.
Departemen Luar Negeri AS pun angkat bicara. Mereka menyatakan "bertanggung jawab penuh" atas kebingungan yang ditimbulkan dan menjelaskan bahwa peta tersebut dibuat oleh anggota tim yang terburu-buru mengubah slide sebelum presentasi dimulai.
Pembicara dalam konferensi tersebut adalah Jeff Graham, utusan kesehatan utama AS yang mengawasi inisiatif PEPFAR (President's Emergency Plan for AIDS Relief). Ia belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Insiden ini terjadi di tengah kebijakan pemerintahan Trump yang tahun lalu menangguhkan pendanaan PEPFAR sambil menunggu tinjauan. Kebijakan itu sempat mengganggu program bantuan di seluruh dunia, meski pekerjaan inti seperti penyediaan obat-obatan yang menyelamatkan jiwa sebagian besar telah dilanjutkan. Namun, AS mengurangi pengeluaran di bidang pencegahan dan pengawasan, serta berencana menghentikan program tersebut sepenuhnya di Afrika Selatan.