Menteri Transmigrasi Dorong Industrialisasi Kelapa di Halmahera Utara, Buka 4.000 Lapangan Kerja

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 02:45 WIB
Menteri Transmigrasi Dorong Industrialisasi Kelapa di Halmahera Utara, Buka 4.000 Lapangan Kerja

Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman Suryanagara mendorong industrialisasi berbasis potensi daerah sebagai strategi menciptakan nilai tambah ekonomi yang signifikan. Gagasan ini disampaikan dengan merujuk pada potensi kelapa di Halmahera Utara, Maluku Utara, yang dinilai mampu menggerakkan perekonomian lokal secara masif.

Dalam media gathering Kementerian Transmigrasi di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2026), Iftitah memaparkan data bahwa di Halmahera Utara terdapat sekitar 6,9 juta pohon kelapa. Ia menekankan bahwa industrialisasi yang diinisiasi di kawasan transmigrasi mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang luar biasa. "Tidak lagi memetik kelapa, menjual kelapa mentah. Tapi ada susu kelapa, ada air kelapa, ada dagingnya sendiri kelapa, bisa kelapa itu dibikin kosmetik. Bahkan yang terakhir sekarang, sabut kelapanya dia ekspor. Jadi dari satu komoditas saja turunannya itu banyak," ujarnya.

Iftitah menyebutkan bahwa industri kelapa di Halmahera Utara dapat membuka sekitar 4.000 lapangan pekerjaan, di mana 85 persen di antaranya berasal dari warga lokal. Dampak ekonomi ini, menurutnya, sudah terlihat secara visual dengan munculnya berbagai fasilitas baru di kawasan tersebut. "Kelapa stay di situ, diolah oleh industri. Nah, tumbuhlah, menciptakan lapangan kerja untuk industrinya saja itu sekitar 4.000, 85 persen dari masyarakat lokal. Visual saja kelihatan, ada supermarket, terus kemudian ada restoran, tumbuh pula, secara visual saja sudah kelihatan," katanya.

Produksi kelapa di Halmahera Utara disebut mampu mencapai 620 juta butir per tahun. Angka ini menjadi modal besar untuk menembus pasar ekspor, terutama ke China. Iftitah menjelaskan bahwa kebutuhan konsumsi kelapa China mencapai 4 miliar butir per tahun, namun negeri itu hanya mampu memenuhi 1 miliar butir dari produksi dalam negeri. "Berarti ada gap 3 miliar butir kelapa. Bayangkan, dari Halmahera Utara saja bisa memenuhi 1,5 sampai 1,8," katanya.

Selain kelapa, Iftitah juga menyoroti potensi mangga di Pasuruan. Ia bercerita tentang pengalamannya saat berdinas di daerah tersebut dan menemukan keunikan mangga lokal. "Saya jadi petani mangga, ternyata suhunya beda, jam karetnya beda, sinar mataharinya beda, itu yang membuat mangga Pasuruan beda," ujarnya. Ia bahkan berandai-andai jika menjadi Bupati Pasuruan, ia akan menanam mangga secara besar-besaran. "Tidak ada yang sehebat mangga Pasuruan. Kalau saya jadi Bupati Pasuruan, tidak boleh ada satu jengkal pun di Pasuruan yang tidak ditanami mangga, arumanis. Harus begitu. Karena itu kekayaan yang diberikan oleh Tuhan," katanya.

Iftitah mendorong agar industri mangga dibangun secara end-to-end. Ia mencontohkan bahwa selama 20 tahun mangga Indonesia belum bisa masuk ke Jepang meskipun peminatnya tinggi. "Kenapa? Karena kita tidak pernah end-to-end. Harusnya kita tanya dulu orang Jepang, gimana supaya masuk, 'Oh, hamanya, ininya, itunya,' baru ke hulunya, kita ikuti, pengemasannya, sampai nyampe sana," katanya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags