Setiap tanggal 25 Juni, dunia memberikan penghormatan kepada para pelaut yang menjadi tulang punggung perdagangan global. Hari Pelaut Sedunia atau Day of the Seafarer bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengakui kontribusi mereka terhadap perekonomian dunia serta risiko dan pengorbanan pribadi yang harus ditanggung saat menjalankan tugas di tengah lautan.
Penetapan tanggal 25 Juni sebagai Hari Pelaut Sedunia bermula dari resolusi yang diadopsi dalam Konferensi Diplomatik tahun 2010 di Manila. Saat itu, konferensi tengah membahas revisi Konvensi STCW standar pelatihan, sertifikasi, dan pengawasan bagi awak kapal. Resolusi tersebut secara khusus bertujuan mengakui jasa para pelaut dari seluruh dunia dalam perdagangan maritim internasional, ekonomi global, dan masyarakat sipil secara luas.
Dalam resolusi yang sama, pemerintah, organisasi pelayaran, perusahaan, pemilik kapal, dan seluruh pemangku kepentingan didorong untuk mempromosikan Hari Pelaut dengan cara yang tepat dan merayakannya secara bermakna. Hari peringatan ini kemudian diakui pula oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai hari peringatan resmi.
Alasan di balik penetapan ini cukup mendasar: hampir semua barang yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, secara langsung maupun tidak langsung, dipengaruhi oleh transportasi laut. Organisasi Maritim Internasional (IMO) menetapkan tanggal tersebut sebagai bentuk pengakuan atas kenyataan itu.
Sejak 2011, IMO menyelenggarakan perayaan Hari Pelaut secara online. Masyarakat diajak memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Twitter untuk menyuarakan dukungan kepada para pelaut dan berterima kasih atas pekerjaan mereka.
Untuk peringatan tahun 2026, IMO mengangkat tema "Carrying world trade. Carrying the risks". Tema ini menyoroti kesulitan, tekanan, dan risiko kehidupan di laut, terutama di daerah berisiko tinggi dan yang terkena dampak konflik. Di saat yang sama, kampanye ini menekankan peran vital para pelaut dalam menjaga kelancaran perdagangan global.
Inti dari tema tersebut adalah pengakuan bahwa kontribusi para pelaut seringkali tidak terlihat, meskipun mereka bekerja dalam kondisi sulit dan berbahaya. Tujuannya sederhana: mengakui jasa mereka sekaligus menyadari risiko dan pengorbanan yang menyertainya.
Artikel Terkait
Empat Spesialis Pembobol Rumah dengan Modus Congkel Jendela Diringkus di Serang
DJP Temukan Praktik Penghindaran Pajak dengan Memecah Usaha ke Puluhan Badan Hukum
Pria di Bogor Ditemukan Tewas Gantung Diri di Dalam Rumah
Polisi Selidiki Video Viral Dugaan Pelecehan Seksual Sesama Pria di Angkutan Umum Cipayung