Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong perluasan pendidikan vokasi yang dikelola langsung oleh pelaku industri. Strategi ini dirancang untuk memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan siap diserap pasar kerja tanpa perlu melalui masa pelatihan ulang yang panjang.
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, menjelaskan bahwa model sekolah vokasi di dalam kawasan industri menjadi solusi paling efektif untuk menjembatani kesenjangan keterampilan. Kebutuhan tenaga kerja yang spesifik dari masing-masing industri dapat langsung diterjemahkan ke dalam kurikulum.
"Kami sudah mulai membuka sekolah-sekolah vokasi di kawasan-kawasan industri karena kebutuhan mereka terlihat jelas, sehingga lulusannya bisa langsung diserap oleh industri yang bersangkutan," ungkap Shinta di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (24/6/2026).
Menurut Shinta, langkah ini lahir dari kebutuhan mendesak akan tenaga kerja yang benar-benar sinkron dengan permintaan industri. Setelah proses pemetaan tenaga kerja dilakukan, pembenahan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas berikutnya. Kadin tidak hanya fokus pada penciptaan lulusan baru, tetapi juga meningkatkan kapasitas pekerja yang sudah ada melalui program pelatihan berkelanjutan.
"Setelah pemetaan, kita mesti melakukan upskilling dan reskilling karena keterampilan tenaga kerja yang ada belum tentu sesuai dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang," ujarnya.
Program pelatihan tersebut mencakup peningkatan keterampilan agar tenaga kerja domestik mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi. Kadin ingin memastikan setiap pekerja memiliki fleksibilitas tinggi dalam menghadapi tuntutan industri yang dinamis.
Di luar penguatan vokasi dalam negeri, Kadin juga mulai menjajaki peluang bagi tenaga kerja Indonesia untuk berkarier di luar negeri. Inisiatif pengiriman tenaga kerja migran ini dilakukan dengan standar keahlian yang ketat, sesuai dengan permintaan kebutuhan industri internasional.
"Sekolah vokasi sangat penting karena keterampilan bisa langsung didapatkan, selain itu kami juga mulai mengirim tenaga kerja migran yang memang dibutuhkan secara cepat oleh industri," tambah Shinta.
Kadin optimistis bahwa integrasi antara pendidikan vokasi dan kebutuhan praktis industri akan membawa dampak positif bagi produktivitas nasional. Langkah ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi peningkatan kualitas tenaga kerja Indonesia secara global.
Artikel Terkait
Pria Nekat Panjat Tower 52 Meter di Bandar Lampung, Istri Bujuk Turun Pakai HT
Tokoh Muda NU: Kapolri Letakkan Fondasi Kuat, tapi Reformasi Polri Masih Jalan Panjang
Mantan Atasan Jadi Kunci Penyerahan Diri Taufik Hidayat, Pelaku Penyekapan Sadis di Bandung
Inggris Catat Rekor Suhu 35,8 Derajat Celcius, Peringatan Panas Ekstrem Dikeluarkan